Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Malas atau Kreatif? Melihat Sisi Lain dari Kepribadian Manusia

Rahma Nur Anisa • Rabu, 17 September 2025 | 18:00 WIB

 

Kunci kesuksesan bukan terletak pada menghilangkan sifat malas atau hanya mengandalkan kerajinan.
Kunci kesuksesan bukan terletak pada menghilangkan sifat malas atau hanya mengandalkan kerajinan.

BLITAR KAWENTAR - Label “pemalas” sering kali dianggap negatif dalam kehidupan sehari-hari. Namun, psikologi modern menunjukkan bahwa sifat yang dikategorikan sebagai malas tidak selalu buruk. Justru dalam konteks tertentu, sifat ini bisa melahirkan kreativitas, efisiensi, dan kemampuan beradaptasi yang tinggi.

Dalam kerangka The Big Five Personality Traits, kecenderungan malas biasanya dikaitkan dengan rendahnya skor conscientiousness. Individu dengan skor rendah sering digambarkan sebagai orang yang lebih impulsif, kurang menyukai rutinitas, dan kerap menunda pekerjaan.

Namun, di balik stereotip negatif tersebut, ada potensi tersembunyi. Orang dengan skor rendah conscientiousness justru lebih fleksibel, lebih terbuka terhadap perubahan, dan tidak kaku dalam menghadapi situasi baru. Sifat ini memberi mereka kemampuan untuk menemukan solusi di luar kebiasaan.

Baca Juga: Tingkatkan Kualitas Pelayanan, BPN Jatim Gembleng Petugas Loket Se-Jawa Timur

Sejarah mencatat banyak inovasi besar lahir dari sikap malas yang produktif. Tokoh-tokoh seperti Thomas Edison dan Bill Gates pernah menyatakan bahwa mereka menghargai “orang malas yang cerdas” karena sering kali mencari cara termudah dan tercepat untuk menyelesaikan pekerjaan.

Dalam konteks modern, seorang karyawan yang enggan melakukan pekerjaan berulang-ulang secara manual bisa saja menciptakan sistem otomatisasi. Alih-alih sekadar menunda, mereka justru menemukan solusi inovatif yang menghemat waktu dan tenaga.

Di dunia kerja, sifat malas bisa menjadi bumerang bila tidak dikelola dengan baik. Seorang pegawai yang sering menunda tugas bisa merugikan tim. Namun, dalam bidang yang menuntut improvisasi seperti seni, pemasaran, atau event organizer, sifat santai bisa justru menjadi kekuatan.

Baca Juga: ⁠Dosen Muda di Blitar Ini Punya Gairah Menulis Antologi: Saya Ingin Telurkan Novel yang Bisa Mengispirasi

Dalam pendidikan, siswa yang tampak malas mengerjakan tugas rutin sering kali memiliki cara belajar yang berbeda. Mereka mungkin lebih suka belajar visual, eksperimen langsung, atau diskusi, ketimbang sekadar membaca buku teks. Guru yang mampu memahami perbedaan ini bisa mengubah label “malas” menjadi “berbeda gaya belajar”.

Di Indonesia, budaya kerja keras sangat dijunjung tinggi. Pepatah “rajin pangkal pandai”  memperkuat stigma bahwa malas adalah sifat buruk. Hal ini membuat banyak orang merasa bersalah ketika tidak produktif sepanjang waktu.

Padahal, psikologi positif mengajarkan bahwa istirahat dan waktu santai juga penting bagi kesehatan mental. Bahkan, banyak ide kreatif justru muncul ketika otak berada dalam kondisi rileks. Dalam hal ini, “malas” bisa dipahami sebagai mekanisme alami tubuh untuk mencari keseimbangan.

Baca Juga: Kakanwil BPN Jatim Evaluasi Tunggakan Pelayanan, Target Penyelesaian Dikebut Jelang Akhir Tahun

Kunci dari memahami sifat malas bukanlah menghapusnya, melainkan mengelolanya. Ada beberapa cara agar sifat ini bisa menjadi kekuatan:

  1. Gunakan malas sebagai pemicu efisiensi. Jika suatu tugas terasa melelahkan, carilah cara tercepat dan termudah untuk menyelesaikannya dengan tetap efektif.

  2. Alihkan energi ke bidang kreatif. Orang yang malas dengan rutinitas bisa lebih sukses di bidang seni, desain, atau inovasi.

  3. Belajar manajemen waktu. Menunda tidak selalu buruk jika dilakukan dengan terukur. Teknik seperti structured procrastination bisa membuat seseorang tetap produktif meski menunda pekerjaan tertentu.

  4. Terima diri apa adanya. Menyadari bahwa setiap orang punya ritme kerja berbeda adalah langkah awal untuk memanfaatkan keunikan diri.


Bayangkan dua tipe karyawan yang pertama rajin, datang paling pagi, menyelesaikan semua tugas dengan teliti. Yang kedua cenderung malas, sering menunda, tetapi akhirnya menemukan cara menggunakan perangkat lunak otomatis yang mempercepat pekerjaannya. Keduanya bisa sama-sama berkontribusi penting, hanya dengan cara berbeda.

Fenomena ini juga terlihat pada mahasiswa. Ada yang rajin mengerjakan catatan setiap hari, tetapi ada juga yang tampak malas dan hanya belajar ketika mendekati ujian. Anehnya, tipe kedua bisa saja lulus dengan nilai tinggi karena menemukan cara belajar yang lebih efektif bagi dirinya.

Malas tidak selalu identik dengan kegagalan, sama halnya rajin tidak selalu berujung pada kesuksesan. Psikologi mengajarkan bahwa setiap sifat memiliki kelebihan dan kekurangan. Dalam konteks tertentu, malas bisa menjadi pintu menuju kreativitas, inovasi, dan efisiensi.

Baca Juga: Kakanwil BPN Jatim Lantik 140 Pejabat Pengawas, Tekankan Integritas sebagai Pondasi Kerja

Alih-alih memberi stigma, masyarakat sebaiknya mulai melihat sisi positif di balik sifat yang kerap dianggap negatif. Dengan pengelolaan yang tepat, sifat malas dapat diubah menjadi strategi hidup yang bermanfaat, baik untuk individu maupun lingkungan sekitarnya. (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#kepribadian manusia #psikologis #malas #Rajin #manfaat malas #The Big Five Personality #kreatif