BLITAR - Aroma kopi dan teh berpadu dengan wangi lembaran buku, menciptakan suasana khas di sebuah sudut Kanigoro. Bukubuka, kafe literasi yang dikelola oleh pasangan muda, Agung Hari Wijaya beserta istrinya. Tempat ini tidak hanya menyajikan kopi dan teh, melainkan juga menghadirkan ruang baca yang nyaman bagi penggemar buku di wilayah Blitar ataupun sekitarnya.
Kecintaan terhadap buku dan minuman menjadi cikal bakal lahirnya Bukubuka. Sebuah ruang literasi sekaligus kedai kopi berkonsep vintage di Kelurahan Satrean, Kecamatan Kanigoro, yang cukup menarik perhatian. Tempat ini dikelola oleh Agung Hari Wijaya bersama sang istri.
Keduanya memiliki kegemaran yang berbeda. Agung gemar ngopi, sedangkan sang istri penyuka teh. Namun, keduanya sama-sama menggemari buku.
Baca Juga: Hemlock Water Dropwort: Ancaman Kesehatan Masyarakat yang Perlu Diwaspadai
Dari kegemaran itulah, lahirlah ide membuka usaha yang tidak hanya menjual minuman dan makanan, tetapi juga menghadirkan tempat dengan suasana yang nyaman untuk membaca.
Berawal pada tahun 2018 saat sang istri bekerja di Jogjakarta sehingga akses ke penerbit lebih mudah. Agung dan istrinya kala itu membuka toko buku melalui dare. Pada tahun 2019, setelah sang istri kembali ke Blitar, penjualan buku sempat terhenti karena kesibukan yang lain.
Pada tahun 2020, Agung bersama istrinya mulai membuka toko buku offline sekaligus menghadirkan pojok baca meski koleksi bukunya masih terbatas. Seiring berjalannya waktu, pojok baca justru ramai dikunjungi teman-teman sesama penggemar buku dan menjadi tempat nongkrong alternatif.
Baca Juga: KPK Telusuri Aliran Dana Korupsi Haji ke PBNU, Mahfud MD: Kemungkinan Oknum, Bukan Institusi
Dari situlah, muncul ide untuk menjadikan pojok bacanya sebagai kafe pada tahun 2021. Hingga akhirnya lahirlah kafe Bukubuka dengan nuansa vintage .
Nama Bukubuka merupakan akronim dari “Buku Membuat Kamu”. Koleksi buku yang ada di sini beragam, mulai dari komik, novel, hingga buku sastra ataupun buku sejarah. “Buku-buku di sini hanya bisa dibaca di tempat, tidak untuk dipinjamkan. Menghindari hilangnya buku-buku yang ada,” tutur pria 31 tahun ini.
Jam operasional kafe Bukubuka setiap hari mulai pukul 09.00-21.00 WIB, kecuali Senin di jam 07.00-19.00 WIB, dan Minggu pukul 09.00-19.00 WIB.
Baca Juga: Mahfud MD: Momentum Tepat Jadikan Budi Arie Tersangka Kasus Judi Online
Mayoritas pengunjung berasal dari kalangan pelajar, komunitas membaca, hingga warga yang gemar membaca. Tak hanya dari wilayah Blitar, pengunjung juga ada yang dari luar daerah seperti Tulungagung, Trenggalek, Malang, hingga paling jauh dari Jogjakarta.
Menu yang menjadi primadona di kafe ini ada beberapa. Seperti mie tektek dan tempe mendoan untuk makanan. Serta cappuccino dan teh mango mint untuk minumannya. Menariknya, beberapa menu lahir dari permintaan pelanggan yang datang, seperti menu nasi telur saus ataupun nasi tahu.
"Tempatnya nyaman dan asyik. Menunya enak. Koleksi bukunya juga banyak, jadi bisa ngopi sambil membaca-baca buku yang tersedia. Jarang saya membahas kafe buku di Blitar Raya," ucap Muhammad Nada, salah satu pengunjung kafe Bukubuka.
Baca Juga: Bansos PKH-BPNT Tahap 3 Cair 80–90 Persen, Sisanya Tertunda Karena Data dan Validasi
Selain itu, Bukubuka juga beberapa kali terlibat dalam sejumlah kegiatan, seperti Soekarno Coffe Fest dan juga Blitar Jadoel. Harapan ke depan, Agung dan Istrinya bisa terus konsisten menghadirkan ruang literasi merawat sekaligus buku-buku yang mereka koleksi.
"Bukubuka tidak akan tumbuh tanpa adanya teman-teman. Kami ini hanya menghadirkan tempat di mana literasi tetap hidup. Meskipun di era digital ini, banyak orang yang mulai melupakan eksistensi buku cetak," tutup Agung. (*/c1/sub)
Editor : M. Subchan Abdullah