Bagaimana Mengenali dan Melindungi Diri dari Taktik Psikologis Berbahaya
Rahma Nur Anisa• Jumat, 19 September 2025 | 01:00 WIB
Pada tahap awal, narsisis akan menunjukkan perhatian dan kasih sayang yang berlebihan.
BLITAR KAWENTAR - Hubungan percintaan dengan individu narsisis seringkali dimulai dengan fase "bulan madu" yang intens, namun secara bertahap berubah menjadi pola manipulasi yang merugikan.
Para psikolog mengungkap berbagai strategi tersembunyi yang digunakan narsisis untuk mengendalikan pasangan mereka.
Pada tahap awal, narsisis akan menunjukkan perhatian dan kasih sayang yang berlebihan. Namun, hal ini bukanlah bentuk cinta sejati, melainkan strategi manipulasi jangka panjang. Mereka memberikan perhatian intensif dengan tujuan menembus pertahanan psikologis calon korban.
"Mereka tidak tahu bagaimana mencintai orang, mereka hanya tahu bagaimana menggunakan orang," jelaskan para ahli psikologi. Proses pemberian ini berlangsung hingga kepercayaan target terbentuk sepenuhnya, kemudian pola eksploitasi dimulai.
Ketika seseorang pertama kali bertemu narsisis, mereka akan mendorong untuk berbagi cerita pribadi secara mendalam. Informasi yang dibagikan ini kemudian dicatat dan disimpan sebagai "tombol panas" yang dapat digunakan untuk manipulasi di masa depan.
Narsisis memiliki kemampuan luar biasa dalam mengingat kerentanan emosional seseorang. Informasi ini akan digunakan ketika mereka membutuhkan sesuatu atau ingin mengendalikan situasi tertentu.
Salah satu ciri khas hubungan dengan narsisis adalah penerapan standar ganda yang ekstrem. Mereka merasa memiliki hak istimewa yang tidak berlaku bagi pasangan. Misalnya, mereka dapat mengakses ponsel pasangan, namun melarang pasangan melakukan hal yang sama.
Aturan-aturan yang ditetapkan untuk pasangan tidak berlaku bagi diri mereka sendiri. Hal ini menciptakan ketidakseimbangan kekuatan yang signifikan dalam hubungan.
Dalam setiap konflik, narsisis akan menggunakan taktik pemutarbalikan fakta. Mereka tidak akan pernah mengakui kesalahan, namun akan memutarbalikkan situasi sehingga pasangan yang merasa bersalah.