Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Learned Helplessness: Ketika Otak Belajar Menyerah dari Kegagalan Berulang

Rahma Nur Anisa • Jumat, 19 September 2025 | 21:00 WIB

Kunci utama adalah mengambil tanggung jawab bahwa dalam setiap masalah, ada kontribusi di diri sendiri
Kunci utama adalah mengambil tanggung jawab bahwa dalam setiap masalah, ada kontribusi di diri sendiri

BLITAR KAWENTAR - Fenomena "learned helplessness" atau ketidakberdayaan yang dipelajari menjadi salah satu penjelasan ilmiah mengapa seseorang dapat terjebak dalam siklus kegagalan berkepanjangan.

Eksperimen klasik dalam bidang psikologi mengungkap bagaimana kegagalan berulang dapat melatih otak untuk menyerah bahkan ketika solusi sebenarnya tersedia.

Sebuah eksperimen psikologi melibatkan dua kelompok peserta yang diminta menyelesaikan puzzle balok kayu. Kelompok pertama (kontrol) diberikan puzzle yang benar-benar dapat diselesaikan, sementara kelompok kedua (eksperimen) sengaja diberikan puzzle yang tidak mungkin dipecahkan.

Baca Juga: Wali Kota Blitar Segera Rombak Eselon II, Mas Ibin: ASN Harus Selalu Siap

Pada tahap pertama dan kedua, kelompok kontrol berhasil menyelesaikan puzzle dalam waktu kurang dari satu menit, sementara kelompok eksperimen mengalami frustrasi berat. Yang mengejutkan terjadi pada tahap ketiga, ketika kedua kelompok diberikan puzzle yang identik dan dapat diselesaikan.

Kelompok kontrol kembali berhasil dengan mudah, namun kelompok yang sebelumnya mengalami kegagalan berulang tidak mampu menyelesaikannya meskipun puzzle tersebut sebenarnya dapat dipecahkan.

Hasil eksperimen ini menunjukkan bahwa ketika seseorang mengalami kegagalan berulang, otak akan mempelajari ketidakberdayaan. Individu tersebut akan kehilangan motivasi untuk mencoba bahkan ketika peluang berhasil sebenarnya ada di depan mata.

Baca Juga: Gagal Bayar Pinjol: Masalah Individu atau Krisis Kolektif?

Fenomena ini sangat relevan dengan kondisi orang yang mengalami depresi. Mereka biasanya memiliki riwayat masalah bertubi-tubi di masa hidupnya, selalu "dipukul" oleh kehidupan, dan tidak dapat mengubah apapun dalam situasinya. Apapun yang mereka coba lakukan selalu tidak berhasil mengubah keadaan.

Learned helplessness sering termanifestasi dalam bentuk pernyataan seperti "Aku sudah melakukan semuanya tapi selalu gagal", "Memang aku tidak bisa berubah", "Takdir memang begini", atau "Aku terlalu bodoh/tidak beruntung". Pola pikir ini sangat berbahaya karena mencegah seseorang keluar dari keterpurukan.

Para ahli psikologi menjelaskan bahwa individu dengan learned helplessness cenderung iri pada kesuksesan orang lain dan memiliki afirmasi negatif di kepala mereka. Mereka meyakini bahwa orang lain selalu beruntung sementara mereka ditakdirkan untuk gagal.

Baca Juga: Info Pendaftaran Sekda Kabupaten Blitar Masih Sepi Peminat, Ini Kata BKPSDM

Learned helplessness berkaitan erat dengan kompleks inferioritas, sebuah mindset di mana seseorang merasa lemah, kecil, tidak berdaya, dan menjadi korban yang tidak bisa mengubah apapun dalam hidupnya. Mentalitas ini sangat "manis" karena seolah-olah membebaskan seseorang dari tanggung jawab untuk mengubah hidupnya.

Namun, harga yang dibayar dari mentalitas korban ini adalah penderitaan yang tidak akan pernah berhenti. Orang yang mengadopsi kompleks inferioritas akan melepaskan tanggung jawab untuk bertanggung jawab pada hidupnya sendiri.

Para ahli menyarankan untuk melakukan analisis mendalam terhadap setiap kegagalan. Alih-alih menyalahkan nasib atau takdir, individu perlu mengidentifikasi di tahap mana mereka selalu gagal. Dalam pencarian kerja misalnya, apakah gagal di tahap administrasi, psikotes, atau wawancara.

Baca Juga: Belajar Hidup di Negeri Orang: Kisah Inspiratif Perantau Blitar di Jerman

Setiap tahap kegagalan memerlukan strategi perbaikan yang berbeda. Gagal di tahap administrasi berarti perlu memperbaiki CV dan surat lamaran. Gagal di psikotes memerlukan latihan soal-soal psikotes. Gagal di wawancara memerlukan peningkatan kemampuan komunikasi dan kepercayaan diri.

Kunci utama adalah mengambil tanggung jawab bahwa dalam setiap masalah, ada kontribusi dari diri sendiri yang menyebabkan kegagalan tersebut, sehingga akan lebih mudah mencari jalan keluar. (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#eksperimen #Learned Helplessness #kompleks inferior #puzzle #inferiority complex #mental illness #kegagalan berulang