Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dari Garasi Jadi Klinik Mewah, Kisah dr. Diki dan Istri Bikin Warga Blitar Terkagum

Dimas Galih Nur Hendra Saputra • Jumat, 19 September 2025 | 03:20 WIB

Dari Garasi Jadi Klinik Mewah, Kisah dr. Diki dan Istri Bikin Warga Blitar Terkagum
Dari Garasi Jadi Klinik Mewah, Kisah dr. Diki dan Istri Bikin Warga Blitar Terkagum

BLITAR – Perjalanan hidup dr. Diki Prastia bersama sang istri, dr. Maharani Prima, menjadi bukti bahwa kerja keras dan ketulusan melayani masyarakat bisa berbuah manis. Dari garasi berukuran 3x10 meter, pasangan ini berhasil membangun Klinik DMP Lodoyo, Blitar, yang kini berdiri megah dan dikenal luas.

Kisah inspiratif ini bermula pada tahun 2013. Saat itu, dr. Diki baru memulai praktik umum dengan fasilitas seadanya. Ia bersama sang istri memilih Lodoyo, Kecamatan Sutojayan, sebagai lokasi meski banyak yang meragukan keputusan tersebut. "Banyak yang bilang, 'Dok, apa enggak salah buka di Lodoyo? Dokternya sudah banyak.' Tapi feeling saya memang di sini," ungkapnya.

Dari awal, tujuan dr. Diki sederhana: membantu masyarakat mendapatkan layanan kesehatan yang terjangkau. Tarif berobat kala itu hanya Rp25.000. Bahkan jika ada pasien dengan keterbatasan ekonomi, ia tak segan memberi keringanan. "Kadang ada yang cuma bawa Rp5.000, ya sudah. Yang penting dia enggak malu untuk datang lagi kalau sakit," katanya.

Sikap tulus ini justru membuat praktik kecilnya cepat berkembang. Dalam beberapa bulan saja, jumlah pasien melonjak drastis. Dari hanya 2–5 pasien per hari, meningkat menjadi ratusan orang yang rela antre panjang setiap harinya.

Sentuhan Hati, Bukan Sekadar Obat
Menurut dr. Diki, resep utama yang membuat pasien loyal bukan semata obat, melainkan perhatian tulus. Ia terbiasa mengajak pasien ngobrol santai, menanyakan hal-hal kecil yang dianggap penting bagi mereka. "Kadang saya tanya, ‘Bu, tadi masak apa?’ Hal kecil begitu justru bikin pasien merasa diperhatikan," jelasnya.

Pendekatan humanis ini ia sebut sebagai “touch the heart.” Baginya, menyembuhkan orang tidak cukup dengan ilmu medis, tapi juga dengan empati. "Saya selalu menganggap pasien seperti keluarga sendiri. Kalau yang datang bapak-bapak tua, saya anggap itu bapak saya. Jadi pasti saya berikan yang terbaik," tuturnya.

Tak heran, banyak pasien kemudian merekomendasikan kliniknya dari mulut ke mulut. Hingga akhirnya, kapasitas praktik kecil tak lagi mampu menampung. Tahun 2015, ia dan sang istri mulai membangun tempat yang lebih luas, cikal bakal Klinik DMP.

Dari Nama Sederhana Jadi Brand Besar
Nama Klinik DMP sendiri diambil dari inisial Diki dan Maharani Prima. Awalnya sederhana, sekadar membedakan dari praktik mandiri. Namun, seiring perkembangan, brand ini kian kuat dan dipercaya masyarakat.

Selain layanan umum, sang istri kemudian mengembangkan lini perawatan kecantikan. Klinik pun berkembang menjadi dua layanan utama: kesehatan umum dan kecantikan. Dengan strategi pelayanan ramah dan biaya terjangkau, Klinik DMP berhasil menarik banyak pasien loyal.

Meski begitu, perjalanan tak selalu mulus. Saat mencoba ekspansi ke Blitar Kota, dr. Diki sempat menghadapi berbagai kendala, mulai dari masalah lahan hingga penolakan warga. Namun dari situ ia belajar pentingnya relasi dan pemahaman hukum. "Ada yang bilang ke saya, jangan takut selama di jalur hukum yang benar. Itu jadi pegangan saya sampai sekarang," ujarnya.

Filosofi Hidup: Rezeki Sudah Ada yang Mengatur
Bagi dr. Diki, kunci sukses bukan hanya soal kerja keras, tapi juga niat tulus dan keyakinan pada rezeki dari Tuhan. "Kalau buka usaha jangan mikir untung dulu. Fokus saja menyelesaikan masalah orang, nanti rezeki datang sendiri," ucapnya.

Filosofi itu yang membuatnya tetap konsisten menjaga pelayanan meski biaya operasional terus meningkat. Ia percaya, dengan melayani masyarakat dengan hati, Tuhan akan memberikan jalan keluar.

Kini, Klinik DMP menjadi salah satu ikon layanan kesehatan di Lodoyo, Blitar. Dari garasi kecil yang panas tanpa AC, berubah menjadi klinik modern dengan fasilitas lengkap. Bagi banyak orang, kisah ini menjadi bukti bahwa kesungguhan hati bisa mengubah keterbatasan menjadi keberhasilan.

"Yang penting kita kerja maksimal dan tulus. Jangan mendikte Tuhan soal rezeki. Biar Dia yang atur," pungkas dr. Diki. 

Editor : Anggi Septian A.P.
#Human Interest #Klinik DMP Blitar #kisah inspiratif