Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Pembangunan Klinik DMP Blitar Pernah Dihalang Warga, dr. Diki Ungkap Drama di Baliknya

Dimas Galih Nur Hendra Saputra • Jumat, 19 September 2025 | 03:00 WIB

 

 

Pembangunan Klinik DMP Blitar Pernah Dihalang Warga, dr. Diki Ungkap Drama di Baliknya
Pembangunan Klinik DMP Blitar Pernah Dihalang Warga, dr. Diki Ungkap Drama di Baliknya

BLITAR – Perjalanan membangun Klinik DMP Lodoyo, Blitar, ternyata tidak selalu berjalan mulus. Dokter muda dr. Diki Prastia bersama istrinya, dr. Maharani Prima, sempat menghadapi tantangan besar, mulai dari masalah izin hingga penolakan warga sekitar. Namun berkat keteguhan hati dan niat tulus melayani, klinik itu kini berdiri megah dan menjadi rujukan masyarakat.

Awalnya, dr. Diki membuka praktik sederhana di garasi rumah berukuran 3x10 meter pada 2013. Biaya berobat pun sangat terjangkau, hanya Rp25 ribu. Bahkan bila ada pasien yang kesulitan, ia tak segan memberikan keringanan. "Kalau cuma bawa Rp5 ribu, ya enggak masalah. Yang penting jangan malu datang lagi kalau sakit," tuturnya.

Pendekatan humanis dan pelayanan ramah membuat pasien terus berdatangan. Tak butuh waktu lama, praktik kecil itu sudah tak mampu menampung jumlah pasien yang terus membludak. Tahun 2015, ia dan istrinya mulai merencanakan pembangunan klinik yang lebih luas dengan nama Klinik DMP.

Dihalang Warga Saat Bangun Klinik

Meski niatnya baik, langkah dr. Diki memperluas layanan kesehatan sempat mendapat penolakan. Ia menceritakan, ada warga yang tidak setuju dan menghalangi proses pembangunan. "Pernah ada masa-masa sulit, saat bangun di Blitar Kota. Bahkan sampai ada yang menghadang," ungkapnya.

Tak hanya itu, proses perizinan dan legalitas lahan juga menjadi tantangan tersendiri. Namun pengalaman itu justru memberinya pelajaran penting tentang arti hukum dan keteguhan hati. "Ada yang bilang, hukum itu seperti tembok Berlin. Kalau kita ada di jalur yang benar, jangan pernah takut. Itu yang saya pegang sampai sekarang," jelasnya.

Meski penuh tekanan, dr. Diki memilih tetap tenang dan fokus pada tujuan awal: melayani masyarakat. Perlahan, semua kendala bisa diselesaikan, dan Klinik DMP pun berdiri kokoh hingga sekarang.

Sentuhan Hati ke Pasien

Keberhasilan Klinik DMP bukan hanya soal gedung besar, melainkan filosofi pelayanan yang berbeda. Menurut dr. Diki, pasien bukan sekadar angka atau objek medis, melainkan manusia yang butuh diperhatikan.

Ia terbiasa mengajak pasien berbincang santai, menanyakan hal-hal kecil yang membuat mereka merasa nyaman. "Kadang saya tanya, ‘Bu, tadi masak apa?’ Hal kecil itu bikin pasien merasa diperhatikan, bukan sekadar diberi obat," ujarnya.

Metode sederhana ini ia sebut sebagai “touch the heart” atau sentuhan hati. Filosofi itu pula yang membuat pasien setia dan merekomendasikan kliniknya dari mulut ke mulut.

Dari Garasi ke Klinik Modern

Kini, Klinik DMP sudah berkembang pesat. Dari garasi kecil tanpa AC, berubah menjadi klinik modern dengan dua lini utama: layanan kesehatan umum dan perawatan kecantikan yang dikelola istrinya.

Nama DMP yang awalnya hanya inisial sederhana, kini menjelma menjadi brand besar di Blitar. Banyak masyarakat datang bukan hanya dari Lodoyo, tapi juga dari berbagai daerah sekitarnya.

Meski sudah sukses, dr. Diki tak melupakan filosofi hidup yang ia pegang sejak awal: rezeki sudah ada yang mengatur. "Kalau buka usaha jangan mikir untung rugi dulu. Fokus saja menyelesaikan masalah orang, nanti rezeki datang sendiri," pungkasnya.

Editor : Anggi Septian A.P.
#Human Interest #Klinik DMP Blitar #kisah inspiratif #konflik warga