BLITAR – Kesuksesan Klinik DMP Lodoyo, Blitar, yang kini dikenal luas, ternyata berawal dari filosofi sederhana yang dipegang teguh sang pendiri, dr. Diki Prastia. Bagi dokter muda ini, rezeki bukan soal hitungan untung rugi, melainkan keyakinan bahwa Tuhan sudah mengaturnya.
“Kalau buka usaha jangan mikir untung dulu. Fokus saja menyelesaikan masalah orang, nanti rezeki datang sendiri,” ujar dr. Diki ketika ditemui.
Prinsip itu yang membuatnya berani membuka praktik pertama pada 2013 hanya dari garasi rumah berukuran 3x10 meter. Dengan fasilitas sederhana, ia menetapkan tarif berobat Rp25 ribu, bahkan sering memberi keringanan bagi pasien yang kurang mampu. “Kadang ada yang bawa Rp5 ribu, ya saya terima. Yang penting pasien enggak malu datang lagi kalau sakit,” tuturnya.
Tulus Melayani, Pasien Pun Datang
Meski sederhana, niat tulus itu membuat praktik kecilnya berkembang pesat. Pasien yang awalnya hanya beberapa orang per hari, dalam hitungan bulan sudah mencapai ratusan. Banyak warga kemudian merekomendasikan dr. Diki dari mulut ke mulut.
Ia percaya, pelayanan dengan hati adalah kunci keberhasilan. Tak sekadar memberi obat, dr. Diki selalu menyempatkan diri berbincang dengan pasien. “Kadang saya tanya, ‘Bu, tadi masak apa?’ Hal-hal kecil begitu bikin pasien merasa diperhatikan,” ungkapnya.
Menurutnya, rasa nyaman adalah bagian penting dari proses penyembuhan. Filosofi itu ia sebut sebagai “touch the heart” atau sentuhan hati.
Dari Garasi ke Klinik DMP
Lonjakan pasien membuat garasi kecil tak lagi cukup. Pada 2015, ia bersama istrinya, dr. Maharani Prima, mulai membangun tempat layanan yang lebih luas. Dari situlah nama Klinik DMP lahir, singkatan dari Diki Maharani Prima.
Kini, Klinik DMP tak hanya melayani kesehatan umum, tetapi juga merambah ke perawatan kecantikan yang dikelola istrinya. Gedung modern dengan fasilitas lengkap itu menjadi bukti bahwa prinsip sederhana bisa menghasilkan perubahan besar.
Namun perjalanan tidak selalu mudah. Saat mencoba ekspansi ke Blitar Kota, ia sempat menghadapi kendala, mulai dari masalah perizinan hingga penolakan warga. “Ada yang bilang, jangan takut kalau kita ada di jalur hukum yang benar. Itu jadi pegangan saya,” ucapnya.
Filosofi Hidup yang Jadi Pegangan
Meski sudah melewati banyak tantangan, dr. Diki tetap berpegang pada keyakinan bahwa rezeki sudah ditentukan oleh Tuhan. Ia menekankan, jangan pernah mendikte kehidupan. “Yang penting kita kerja maksimal dan tulus. Biar Tuhan yang atur rezeki,” tegasnya.
Filosofi inilah yang membuatnya tetap konsisten menjaga pelayanan, meski biaya operasional terus meningkat. Ia percaya, dengan niat baik dan kerja keras, jalan keluar akan selalu ada.
Kini, Klinik DMP bukan hanya sekadar fasilitas kesehatan, tetapi juga simbol inspirasi di Blitar. Dari garasi panas tanpa AC, menjadi klinik modern yang setiap hari dipadati pasien. Semua itu lahir dari keyakinan sederhana: melayani dengan hati, dan membiarkan rezeki diatur Tuhan.
Editor : Anggi Septian A.P.