Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

dr. Diki Punya Cara Unik, Bikin Pasien Lupa Sakit dengan “Serangan Hati ke Hati”

Dimas Galih Nur Hendra Saputra • Jumat, 19 September 2025 | 02:20 WIB

 

dr. Diki Punya Cara Unik, Bikin Pasien Lupa Sakit dengan “Serangan Hati ke Hati”
dr. Diki Punya Cara Unik, Bikin Pasien Lupa Sakit dengan “Serangan Hati ke Hati”

BLITAR – Tidak semua dokter hanya mengandalkan resep obat untuk membuat pasien sembuh. dr. Diki Prastia, pendiri Klinik DMP Lodoyo, Blitar, punya cara unik yang ia sebut sebagai “serangan hati ke hati.”

Bagi dokter muda ini, pasien bukan sekadar objek medis. Mereka adalah manusia yang butuh didengar, diperhatikan, dan diperlakukan layaknya keluarga. “Kadang saya tanya, ‘Bu, tadi masak apa?’ Hal-hal sederhana begitu bikin pasien merasa diperhatikan, bukan sekadar diberi obat,” ujarnya.

Sentuhan Hati Jadi Obat Tambahan

Menurut dr. Diki, kenyamanan adalah bagian penting dari proses penyembuhan. Pasien yang merasa dihargai akan lebih percaya pada dokter dan lebih bersemangat untuk sembuh. Karena itu, setiap kali praktik, ia berusaha memberi perhatian kecil yang membuat suasana cair.

“Kalau ada bapak-bapak tua datang, saya anggap itu bapak saya sendiri. Jadi pasti saya beri pelayanan terbaik, bukan sekadar formalitas,” katanya.

Pendekatan personal ini terbukti ampuh. Banyak pasien merasa lebih tenang, bahkan sering lupa dengan rasa sakit yang mereka bawa ketika pertama kali datang. Filosofi ini kemudian menjadi ciri khas Klinik DMP.

Dari Garasi Sederhana Jadi Klinik Modern

Kisah Klinik DMP berawal dari garasi rumah berukuran 3x10 meter pada 2013. Saat itu, dr. Diki bersama istrinya, dr. Maharani Prima, membuka praktik sederhana dengan biaya terjangkau. Tarif berobat ditetapkan Rp25 ribu, bahkan sering diberi keringanan bagi pasien yang tidak mampu.

Niat tulus melayani membuat praktik kecil ini cepat berkembang. Dari hanya beberapa pasien per hari, jumlahnya melonjak hingga ratusan. Pada 2015, pasangan ini mulai membangun klinik lebih besar dengan nama Klinik DMP, singkatan dari Diki Maharani Prima.

Kini, Klinik DMP berkembang pesat dengan dua layanan utama: kesehatan umum dan perawatan kecantikan yang dikelola istrinya. Gedung modern dengan fasilitas lengkap itu menjadi bukti keberhasilan metode pelayanan yang unik dan tulus.

Filosofi Hidup: Rezeki Sudah Ada yang Mengatur

Meski sudah sukses, dr. Diki tak melupakan filosofi hidupnya: rezeki datang dari Tuhan. “Kalau buka usaha jangan hitung-hitungan untung rugi dulu. Fokus saja bantu orang, nanti rezeki akan datang sendiri,” tegasnya.

Berkat keyakinan itu, ia tetap konsisten menjaga tarif terjangkau dan pelayanan ramah. Bahkan ketika menghadapi tantangan, seperti masalah perizinan dan penolakan warga saat ekspansi ke Blitar Kota, ia memilih tetap teguh. “Yang penting kita di jalur hukum yang benar, jangan pernah takut,” ucapnya.

Klinik yang Beda dari Lainnya

Kini, Klinik DMP dikenal bukan hanya karena fasilitas modernnya, tetapi juga karena atmosfer kekeluargaan yang tercipta. Pasien merasa dekat dengan dokter, bukan sekadar klien.

Metode “serangan hati ke hati” yang diterapkan dr. Diki telah menjadi identitas klinik ini. Dari garasi kecil yang dulu panas tanpa AC, Klinik DMP kini berubah menjadi pusat kesehatan yang ramai setiap hari.

“Obat memang penting, tapi perhatian kecil bisa jadi penyembuh yang lebih besar. Itu yang saya pegang sampai sekarang,” pungkasnya.

Editor : Anggi Septian A.P.
#Sentuhan Hati #Human Interest #Klinik DMP Blitar #kisah inspiratif