Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

“Hukum Adalah Tembok Berlin” – dr. Diki Bongkar Pelajaran Hidup Saat Bangun Klinik DMP

Dimas Galih Nur Hendra Saputra • Jumat, 19 September 2025 | 03:40 WIB

 

“Hukum Adalah Tembok Berlin” – dr. Diki Bongkar Pelajaran Hidup Saat Bangun Klinik DMP
“Hukum Adalah Tembok Berlin” – dr. Diki Bongkar Pelajaran Hidup Saat Bangun Klinik DMP

BLITAR – Setiap orang sukses pasti punya prinsip yang dipegang teguh. Bagi dr. Diki Prastia, pendiri Klinik DMP Lodoyo Blitar, pegangan itu adalah hukum. “Hukum itu seperti tembok Berlin. Kalau kita ada di jalur yang benar, jangan pernah takut,” ujarnya.

Kutipan kuat ini lahir dari pengalaman pribadi. Saat membangun Klinik DMP, ia sempat menghadapi berbagai kendala, mulai dari proses perizinan hingga penolakan warga sekitar. Situasi sulit itu sempat membuatnya goyah, tetapi ia memilih tetap teguh pada jalur hukum.

“Banyak yang bilang jangan gentar, asal kita berada di posisi yang benar. Itu yang selalu saya pegang,” tuturnya.

Dari Garasi ke Klinik Besar

Klinik DMP yang kini berdiri megah sebenarnya berawal dari garasi rumah berukuran 3x10 meter pada 2013. Saat itu, dr. Diki bersama istrinya, dr. Maharani Prima, membuka praktik sederhana dengan tarif Rp25 ribu. Bahkan bila ada pasien yang kurang mampu, ia sering memberi keringanan.

Praktik kecil itu ternyata mendapat sambutan luar biasa. Pasien yang awalnya hanya beberapa per hari, dalam waktu singkat membludak hingga ratusan orang. Lonjakan itu membuat garasi kecil tak lagi mencukupi.

Tahun 2015, pasangan ini mulai membangun klinik lebih besar dengan nama Klinik DMP, singkatan dari Diki Maharani Prima. Klinik berkembang bukan hanya di bidang kesehatan umum, tetapi juga layanan kecantikan yang dikelola istrinya.

Diuji dengan Konflik

Namun dalam proses pembangunan, tidak semuanya berjalan mulus. Saat ekspansi ke Blitar Kota, dr. Diki sempat mendapat penolakan. Ada pihak-pihak yang tidak setuju dan mencoba menghalangi. Situasi itu membuatnya belajar bahwa membangun sesuatu yang besar selalu ada tantangan.

Di momen itulah, ia menemukan pegangan tentang arti hukum. Baginya, hukum adalah benteng yang akan melindungi siapa pun yang berada di jalur benar. “Saya jadikan itu prinsip, supaya tidak takut meskipun menghadapi tekanan,” ungkapnya.

Baca Juga: Pesan Tegas Wamen ATR/BPN Ossy Dermawan di Bengkulu: Aturan Harus Jadi Prinsip, Empati Jadi Kekuatan

Filosofi Rezeki dan Pelayanan

Selain berpegang pada hukum, dr. Diki juga percaya bahwa rezeki sudah ditentukan oleh Tuhan. Filosofi itu membuatnya fokus melayani masyarakat dengan hati.

Ia terbiasa memberi perhatian lebih kepada pasien. Bahkan hal kecil seperti menanyakan kabar atau sekadar obrolan ringan diyakini bisa membuat pasien merasa nyaman. “Saya sebut ini serangan hati ke hati. Obat penting, tapi perhatian itu jauh lebih menenangkan,” jelasnya.

Pendekatan ini membuat Klinik DMP memiliki ciri khas tersendiri. Pasien datang bukan hanya untuk berobat, tapi juga karena merasa mendapat perhatian personal.

Klinik Modern, Filosofi Tetap Sederhana

Kini, Klinik DMP berdiri megah dengan fasilitas lengkap. Dari garasi kecil tanpa AC, berubah menjadi klinik modern yang selalu ramai pasien setiap harinya. Meski sudah besar, dr. Diki tetap memegang prinsip yang sama sejak awal: melayani dengan tulus, berada di jalur hukum, dan menyerahkan rezeki kepada Tuhan.

“Selama kita benar, jangan takut. Tugas kita hanya bekerja maksimal dan melayani dengan hati. Urusan hasil, biar Tuhan yang atur,” pungkasnya.

Editor : Anggi Septian A.P.
#kutipan inspiratif #Human Interest #Klinik DMP Blitar #Hukum Tembok Berlin