BLITAR KAWENTAR - Dalam sebuah diskusi buku bertajuk "Filsafat Kebahagiaan" di Buku Akik, filosof Fahruddin Faiz menghadirkan perspektif menarik tentang hakikat kebahagiaan manusia. Berbeda dengan pandangan umum, Faiz menjelaskan bahwa kebahagiaan sejati justru ditemukan melalui pemahaman batas, bukan kebebasan tanpa kendali.
Menurut Faiz, kebahagiaan dapat dipahami dari dua aspek. Secara subjektif, setiap orang memiliki tingkat rasa dan situasi yang berbeda dalam merasakan bahagia. "Saya sudah bahagia tapi kalau sampean mungkin gelisah bingung, itu kan bisa beda-beda," jelasnya kepada hadirin.
Namun dari aspek objektif, para filosof telah mengidentifikasi pola-pola universal pencapaian kebahagiaan yang berlaku untuk semua orang. Pola inilah yang bersifat objektif, meskipun implementasinya dalam hidup masing-masing tetap personal.
Baca Juga: Mahfud MD: Momentum Tepat Jadikan Budi Arie Tersangka Kasus Judi Online
Dalam bukunya, Faiz mengangkat empat tokoh dengan pendekatan berbeda terhadap kebahagiaan. Plato mewakili kebahagiaan idealistik yang abstrak. Al-Farabi menggabungkan konsep rasional Aristotelian dengan nilai-nilai religius Islam. Imam Ghazali menghadirkan perspektif sufistik tentang kondisi jiwa ideal, sementara Ki Ageng Suryomentaram memberikan pandangan filosofis Jawa yang realistis.
"Beliau ini rasional sekali cara berpikirnya, bahkan mungkin lebih realistis tidak sekedar abstrak sebagaimana banyak gagasan-gagasan filsafat Jawa," kata Faiz mengenai Ki Ageng Suryomentaram.
Salah satu temuan menarik adalah bahwa keempat tokoh sepakat kebahagiaan bukan tentang kebebasan mutlak, melainkan tentang pemahaman batas. "Bahagia itu tentang penerimaan kita sebenarnya atas yang sedang kita alami," ungkap Faiz.
Baca Juga: Cara Cek Pencairan Bansos PKH-BPNT 2025 di Aplikasi SIKS-NG, Praktis dan Akurat
Manusia yang tidak mengenal batas akan kesulitan mencapai kebahagiaan. Bahkan dalam hedonisme sekalipun, kesenangan harus memiliki batasan. Contoh sederhana: makan adalah kebutuhan alamiah yang menyenangkan, tetapi tanpa batas akan menjadi penyakit.
Faiz juga membahas dilema yang sering dialami pembelajar semakin banyak tahu tentang kebahagiaan, malah semakin merasa terbebani karena tidak mampu menerapkannya. Solusinya adalah memahami hikmah - berpikir yang tahu batas dalam memasukkan dan mengeluarkan informasi.
"Pikiran itu kan juga seperti makanan, asupannya juga harus cocok. Anak kecil tetap bisanya pisang sama bubur, tidak bisa kalau dikasih tiba-tiba rawon," analoginya.
Baca Juga: Bansos PKH-BPNT Tahap 3 Cair 80–90 Persen, Sisanya Tertunda Karena Data dan Validasi
Diskusi ini mengungkap bahwa kebahagiaan sejati tidak ditemukan melalui pencarian tanpa henti, melainkan melalui kesadaran akan anugerah yang telah diterima dan pemahaman yang bijak tentang batasan diri. Sebagaimana kata John Stuart Mill: "Bahagia itu paradoks, selama kita mencari kebahagiaan, berarti sebenarnya kita tidak bahagia." (*)