Filosofi Pernikahan Ki Ageng Suryomentaram: Kunci Rumah Tangga Bahagia
Rahma Nur Anisa• Minggu, 21 September 2025 | 20:00 WIB
Filosof Jawa Ki Ageng Suryomentaram berkonsep
BLITAR KAWENTAR - Dalam era modern yang penuh ketidakpastian, nasihat pernikahan dari seorang filosof Jawa abad ke-20 ternyata masih sangat relevan. Fahruddin Faiz, dalam diskusi buku "Filsafat Kebahagiaan", menguraikan pandangan Ki Ageng Suryomentaram tentang fondasi pernikahan yang kokoh.
Ki Ageng Suryomentaram, filosof Jawa yang dikenal karena pemikirannya yang rasional dan realistis, merumuskan empat syarat utama dalam pernikahan yang bahagia:
1. Podo Uripe (Sama-sama Ingin Hidup)
"Jangan menikah karena putus asa," tegas Faiz mengutip Ki Ageng. Kedua pasangan harus memiliki semangat hidup dan harapan masa depan. Menikah dari kondisi putus asa hanya akan menghasilkan kehidupan yang semakin terpuruk.
Konsep ini menekankan kesadaran bahwa kedua pasangan adalah manusia biasa dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. "Jangan menikah kalau kamu merasa malaikat dan pasanganmu manusia biasa, apalagi kamu menganggap pasanganmu iblis," jelas Faiz dengan nada humoris namun serius.
3. Lanang Karo Wadon (Laki-laki dan Perempuan)
Pengakuan akan perbedaan kodrati dan peran yang dapat saling melengkapi. Perbedaan orientasi dan keinginan justru menjadi kekuatan untuk hidup bersama dalam harmoni.
4. Podo Geleme (Sama-sama Mau)
Yang terakhir dan paling fundamental: kesediaan dan kesiapan untuk menjalani hidup bersama. Tanpa kemauan yang tulus dari kedua belah pihak, pernikahan tidak akan bertahan.
Faiz menekankan bahwa pernikahan membutuhkan keberanian. "Kalau tidak berani ya buat apa, apalagi terlalu banyak pertimbangan. Nanti kalau nikah gimana ya, kalau punya anak gimana ya, bisa gak ya saya... mikirnya kedaan ya gak berani itu," ujarnya.
Terlalu banyak teori dan perhitungan justru bisa melumpuhkan. Yang diperlukan adalah tekad bulat dan keberanian untuk menjalani komitmen bersama.
Ketika ditanya tentang konflik dengan orang tua terkait pilihan pasangan, Faiz menyarankan pentingnya komunikasi yang baik. "Pada dasarnya orang tua kita itu ingin kita bahagia pasti itu, cuma memang konsep rumus bahagia mereka mungkin beda dengan yang ada di pikiran kita."
Solusinya adalah keterbukaan dalam komunikasi, menggunakan pendekatan yang bijak, dan tidak lupa berdoa karena "yang membuka hati itu Allah".
Pandangan Ki Ageng ini menjadi semakin relevan di era digital saat ini. Dengan banyaknya pilihan dan informasi yang membanjiri generasi muda, konsep dasar tentang kesederhanaan dan ketulusan dalam memilih pasangan menjadi semakin berharga.
Era media sosial seringkali menciptakan ekspektasi yang tidak realistis tentang pernikahan. Pandangan Ki Ageng mengingatkan bahwa fondasi pernikahan yang kuat terletak pada hal-hal mendasar, semangat hidup, saling menghormati sebagai manusia, menerima perbedaan, dan komitmen yang tulus.
Filosofi pernikahan Ki Ageng Suryomentaram menawarkan panduan yang sederhana namun mendalam. Keempat prinsipnya podo uripe, podo menungsane, lanang karo wadon, podo geleme memberikan fondasi yang kokoh untuk membangun rumah tangga yang bahagia dan langgeng. Di tengah kompleksitas kehidupan modern, kesederhanaan dan ketulusan ternyata masih menjadi kunci utama kebahagiaan pernikahan. (*)