Merantau di Era Modern: Dilema Identitas Generasi Indonesia di Luar Negeri
Rahma Nur Anisa• Minggu, 21 September 2025 | 00:00 WIB
Kunci sukses terletak pada kemampuan beradaptasi dan mempertahankan koneksi
BLITAR KAWENTAR - Fenomena merantau ke luar negeri di kalangan generasi muda Indonesia menghadapi dinamika baru di tengah perubahan geopolitik global.
Pengalaman tiga content creator yang pernah tinggal di berbagai negara mengungkap kompleksitas hidup sebagai diaspora Indonesia modern.
Fathia, yang menempuh S2 di Columbia University New York, mengaku pernah memiliki "American Dream" seperti kebanyakan mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat. Namun, kondisi politik dan imigrasi yang memburuk mengubah perspektifnya.
"Siapa yang tidak punya American Dream? Tapi sekarang kondisi imigrasi di Amerika sangat tidak aman. Banyak imigran legal yang ditangkap dan dideportasi secara paksa," ungkapnya.
Ketidakstabilan politik di negara tujuan membuat rencana jangka panjang semakin sulit diprediksi, memaksa para perantau untuk selalu memiliki rencana cadangan.
Vira, yang pernah berkuliah di Jepang, memutuskan tidak melanjutkan karir di negara tersebut karena budaya kerja yang tidak sesuai dengan kepribadiannya.
"Working culture di Jepang terlalu kaku. Kecuali di perusahaan internasional, saya tidak tertarik melanjutkan hidup di sana," jelasnya.
Pengalaman serupa juga dialami di Korea Selatan, sistem kerja yang menuntut karyawan tidak boleh pulang sebelum atasan masih menjadi praktik umum di banyak perusahaan.
Salah satu tantangan terberat yang dihadapi perantau modern adalah krisis identitas dan perasaan terputus dari tanah air. Xaviera mengaku merasa "out of touch" dengan isu-isu yang relevan di Indonesia ketika tinggal di luar negeri.
"Saat di luar negeri, saya merasa tidak tersambung dengan komunitas dan masalah-masalah yang peduli di Indonesia. Bahkan untuk membuat konten pun merasa tidak relevan," katanya.
Situasi ini diperburuk dengan komentar negatif dari sebagian masyarakat Indonesia yang menganggap diaspora tidak berhak bersuara tentang politik domestik.
Meski menghadapi berbagai tantangan, merantau juga memberikan keuntungan, terutama dalam hal kebebasan berpendapat. "Di luar negeri kita mendapat independensi untuk bersuara tanpa takut intimidasi atau ancaman," jelas Xaviera.
Perlindungan hukum yang berlapis dan jarak geografis memberikan rasa aman bagi diaspora untuk mengekspresikan pendapat politik mereka.
Dari sisi ekonomi, fenomena "kabur aja dulu" atau emigrasi sementara dapat memberikan manfaat bagi Indonesia. Para perantau yang bekerja di luar negeri dapat mengirim devisa dan mengurangi persaingan di pasar kerja domestik.
"Jika satu kursi ada dua perawat, dan satu pergi ke luar negeri, yang satunya dapat mengisi kursi itu. Yang di luar negeri bisa mengirim uang ke Indonesia," analisa Xaviera.
Para perantau juga menghadapi perubahan paradigma kepemilikan. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang mengutamakan kepemilikan rumah, generasi muda saat ini lebih terbuka dengan konsep menyewa.
"Di Korea sudah menjadi generasi sewa. Tidak mungkin beli rumah kecuali sangat kaya. Mungkin Indonesia akan mengikuti pola yang sama," prediksi salah satu narasumber.
Menghadapi ketidakpastian global, para perantau menekankan pentingnya adaptabilitas sebagai keterampilan utama untuk bertahan hidup. "Kita tidak bisa berencana tinggal di satu tempat selamanya. Zaman sudah berubah," kata Vira.
Pengalaman generasi perantau modern menunjukkan kompleksitas hidup di era globalisasi. Mereka harus menyeimbangkan antara peluang karir, identitas kultural, dan ketidakpastian geopolitik.
Kunci sukses terletak pada kemampuan beradaptasi dan mempertahankan koneksi dengan tanah air tanpa kehilangan peluang di kancah internasional. (*)