Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Cerita Mantan Pengidap Skizoafektif Warga Blitar yang Kini Aktif Bikin Karya Tulis: Jika Tak Menulis Pikiran Kacau

Risky Febrya Alvi Sahrin • Senin, 22 September 2025 | 19:30 WIB

 

Cerita Mantan Pengidap Skizoafektif Warga Blitar yang Kini Aktif Bikin Karya Tulis: Jika Tak Menulis Pikiran Kacau
Cerita Mantan Pengidap Skizoafektif Warga Blitar yang Kini Aktif Bikin Karya Tulis: Jika Tak Menulis Pikiran Kacau

BLITAR - Pernah terjebak isolasi panjang akibat mengalami skizoafektif, Saiful Anam, warga Desa Jiwut, Kecamatan Nglegok, menemukan secercah cahaya lewat pena. Dari pengalaman itulah, lahir dua karya buku dan juga komunitas untuk orang disabilitas mental. Karyanya menginspirasi banyak orang.

Malam itu di warung kopi sudut kota Blitar, Saiful Anam duduk dengan tenang sambil menikmati segelas kopi panas. Musik pop menjadi latar belakang dalam menuturkan kisah perjalanannya sebagai seorang penulis.

Saiful Anam, atau yang biasa dikenal dengan nama pena Jesus Anam, menjadikan menulis bukan hanya sekedar hobi, melainkan juga sebuah kebutuhan. Sejak masih di bangku sekolah, Saiful memang menyukai menulis.

Meskipun dia pernah mengalami gangguan mental skizoafektif, hal tersebut tidak menggangu kemampuan kognitif Saiful.

Hobinya mengenal filsafat berawal dari gurunya yang memberinya buku-buku filsafat, yang mendorong dia untuk menyukai filsafat. “Menurut saya, filsafat itu benar-benar cocok dengan diri saya sendiri,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Blitar, Jumat (19/9/2025) lalu.

Nama pena “Jesus” merupakan inspirasi dari tokoh Jesus yang merupakan tokoh teologi pembebasan yang dia gemari sewaktu tinggal di Amerika Latin.

Ketertarikan Saiful terhadap psikoanalis itu berakar dari sakit yang pernah dia alami dan juga dirinya yang mengisolasi selama satu tahun di Bogor. Tokoh-tokoh yang banyak menginspirasi tulisan Saiful seperti Sigmund Freud, Carl Jung, Jacques Lacan, Samuel Beckett, Fyodor Dostoyevsky, hingga Simone de Beauvoir.

Saat ini, dua bukunya yang sudah terbit yaitu berjudul Logos, yang menceritakan tentang esai filsafat, dan juga Ten Days, yang berisi kumpulan cerpen bernuansa filsafat yang meceritakan pertemuannya dengan sang istri.

Saat ini, dia sedang menggarap buku novel bernuansa filsafat-psikoanalisis. Selain itu, dia juga aktif untuk menulis di laman Facebook miliknya. “Kalau saya tidak menulis, pikiran saya menjadi kacau. Bagi saya, menulis itu bagian dari terapi, sekaligus proyek intelektual pribadi,” ungkap pria 50 tahun ini.

Selain aktif dalam menulis, Saiful juga aktif sebagai ketua komunitas Perhimpunan Jiwa Sehat cabang Blitar dan juga sebagai penggagas komunitas Sekolah Filsafat Jalanan.

Dalam komunitas itu, dia menggamblangkan pemikiran bahwasanya orang berintelek itu harusnya dilihat dari tulisannya, bukan dari gelarnya. “Mulai terbiasa berpikir kompleks itu penting. Karena harkat martabat utama manusia ada di pikirannya,” pungkasnya.(*/c1/sub) (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#disabilitas mental #karya buku #komunitas #Skizoafektif #seorang penulis