BLITAR - Sebuah video dakwah di YouTube viral karena menampilkan panduan cara tawasul dan tahlil yang bisa dilakukan umat Islam dari rumah. Praktik ini ditujukan untuk mengirim doa Al-Fatihah kepada Nabi Muhammad SAW, para ulama, hingga keluarga yang telah meninggal dunia.
Dalam video tersebut, ustaz menjelaskan secara rinci tahapan yang perlu dilakukan sebelum memulai tahlil dan tawasul. "Sebelum bertawasul atau kirim doa, alangkah baiknya membaca syahadat tiga kali, istighfar tiga kali, dan selawat satu kali," jelas sang ustaz.
Setelah itu, jamaah diajak membaca Al-Fatihah berulang kali dengan tujuan yang berbeda-beda. Doa pertama dihadiahkan untuk Nabi Muhammad SAW, doa kedua ditujukan untuk para wali dan ulama, sementara doa ketiga dipersembahkan khusus kepada orang tua atau kerabat yang telah mendahului.
Dalam tayangan itu dijelaskan, setelah membaca Al-Fatihah, umat Islam bisa melanjutkan dengan surat Yasin atau langsung membaca tahlil. Sang ustaz memilih memberikan contoh bacaan tahlil. "Mari kita praktikkan bersama, dimulai dengan surat Al-Ikhlas," ujarnya sembari memimpin pembacaan surat pendek.
Bacaan tahlil kemudian dilanjutkan dengan rangkaian kalimat tauhid La ilaha illallah yang diulang berkali-kali. Setelah itu, doa penutup dibacakan dengan penuh harapan agar amal ibadah orang yang sudah wafat diterima di sisi Allah SWT.
Dalam praktiknya, pembacaan tawasul dan tahlil bisa lebih personal. Ustaz menegaskan bahwa jamaah dapat menyebutkan nama keluarga yang sudah meninggal agar doa menjadi lebih khusus. "Nama bapak kita, misalkan bapak fulan bin siapa atau ibu siapa binti siapa, jelaskan sebelum membaca Al-Fatihah," kata sang ustaz.
Hal ini dianggap penting karena doa yang ditujukan langsung dengan menyebut nama memberi makna lebih mendalam bagi keluarga yang masih hidup. Dengan begitu, doa yang dihadiahkan menjadi bentuk penghormatan sekaligus pengingat akan jasa-jasa orang tua atau leluhur.
Tradisi tahlil dan tawasul merupakan bagian dari amalan yang masih hidup di tengah masyarakat muslim Indonesia, terutama di Jawa. Amalan ini sering dilakukan setiap malam Jumat, dalam acara tujuh harian, atau seribu harian sebagai bentuk penghormatan bagi orang yang sudah wafat.
Meskipun terkadang ada perbedaan pandangan antarmazhab mengenai praktik tahlil, namun tradisi ini tetap menjadi bagian penting dari budaya religius masyarakat. Video di YouTube ini pun ramai ditonton karena memberikan panduan yang mudah diikuti, terutama bagi jamaah muda yang ingin belajar sendiri dari rumah.
Di akhir video, sang ustaz menyampaikan harapannya agar konten semacam ini bisa menjadi media dakwah yang bermanfaat. "Mudah-mudahan channel ini bisa bermanfaat bagi kaum muslimin dan muslimat di mana pun berada," ucapnya.
Ia juga mengajak pemirsa untuk mendukung agar dakwah bisa terus berjalan. "Mari kita bangun channel ini bersama-sama supaya kita lebih semangat, lebih istiqamah untuk selalu membuat konten dakwah," tambahnya.
Bagi sebagian orang, video ini bukan sekadar panduan teknis, melainkan juga pengingat spiritual untuk lebih dekat kepada Allah SWT melalui doa, dzikir, dan tahlil.
Tradisi yang diwariskan dari para ulama ini tampaknya akan terus hidup, apalagi kini sudah banyak tersedia dalam format digital. Tinggal bagaimana umat Islam menjaga keikhlasan dalam beramal dan terus melestarikan doa-doa tersebut.
Dengan semakin banyaknya konten dakwah di platform digital, publik pun menunggu update berikutnya yang lebih lengkap dan interaktif.
Editor : Anggi Septian A.P.