BLITAR – Di tengah gempuran budaya modern yang serba praktis, masih ada anak muda yang memilih untuk setia menjaga warisan leluhur. Salah satunya adalah Sesilia Febrianti, penari perempuan asal Desa Bumiayu, Kecamatan Panggungrejo, yang menekuni peran dalam tari celeng.
Dalam kesenian jaranan peran Sesilia muncul dalam sesi perang celeng yang berhadapan dengan para penari jaranan. Untuk menarik minat teman sebaya, biasanya ia kerap membagikan aktivitas berkeseniannya melalui media sosial (medsos).
Sesilia mulai mengenal celeng sejak duduk di bangku kelas 3 SMP, meski sempat berhenti karena larangan orang tua. Kecintaannya tumbuh kembali ketika dia kuliah, hingga akhirnya dia mulai serius menekuni peran celeng yang menurutnya memiliki daya tarik tersendiri.
“Menurut saya, peran celeng itu sorotan dalam pementasan. Apalagi kalau dimainkan perempuan, Itu hal yang keren dan jarang terjadi,” ujar perempuan 21 tahun ini.
Kesukaan perempuan muda ini terhadap tari celeng tidak datang tiba-tiba. Inspirasi Sesilia datang dari tokoh-tokoh celeng seperti Erina Celeng dari Kediri, Bondan Permadi, hingga Mendes Ori dari Blitar yang dikenal kreatif menciptakan properti celeng.
Dari mereka, dia belajar bahwa peran celeng bukan sekadar hiburan, melainkan identitas budaya Jawa. Bangga dan senang adalah makna utama yang dia rasakan saat tampil di panggung. “Bayangkan, biasanya dalam satu pementasan perang celeng ada enam penari kuda laki-laki, dan hanya satu perempuan yang mendapat kesempatan jadi celeng. Itu menjadi kebanggaan tersendiri,” kata Sesilia.
Sesilia sudah sering mendapatkan tawaran untuk melakukan pementasan. Dia pernah melakukan pentas di Panggungrejo, Sutojayan, Wonotirto, Ponggok, hingga wilayah Kota Blitar dan Kabupaten Kediri.
Selain itu, dia juga sering berkolaborasi dengan paguyuban kesenian jaranan, seperti Turonggo Cahyo Budoyo, Kurdo Manunggal Jati, Krido Turuno, New Panji Saputro, dan masih banyak yang lainnya.
Meski dengan begitu banyak undangan yang dia terima, dia tak menampik tantangan besar datang dari minimnya regenerasi serta persaingan dengan hiburan modern. Baginya, kunci pelestarian ada pada kesadaran diri dan komunitas seni yang mampu mengemas jaranan agar relevan dengan zaman tanpa meninggalkan nilai tradisional.
Baca Juga: Lukisan Terkutuk dalam Sejarah Seni: Dari Tragedi Nyata hingga Legenda Urban
Melalui medsos, dia kerap membagikan aktivitas berkesenian untuk menarik minat teman sebaya. “Jaranan dan peran celeng bukan hanya hiburan, tapi jati diri bangsa. Saya ingin kesenian ini tetap hidup, semakin dikenal, semakin diminati, dan semakin inovatif,” pungkas Sesilia. (mg4/ynu) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah