Blitar Kawentar - Di era serba cepat, banyak orang mencari cara instan untuk sehat dan awet muda. Mulai dari diet ekstrem, suplemen mahal, hingga teknologi stem cell. Namun, menurut dr. Tirta, kunci utama kesehatan tetap sederhana: pola makan sehat, olahraga teratur, dan hidup seimbang.
“Kalau masih ngerokok atau nge-vape, ya ujung-ujungnya balik ke saya juga jadi pasien,” ujarnya tegas. Bagi Tirta, semua yang dimasukkan ke tubuh selain oksigen pasti ada batas toleransinya. Termasuk rokok, vape, maupun alkohol. WHO sendiri menyebut tidak ada dosis alkohol yang benar-benar aman. Artinya, semakin sedikit konsumsi, semakin baik untuk kesehatan jangka panjang.
Pola Makan Nomor Satu
Menurutnya, pilar utama kesehatan justru bukan olahraga, melainkan makanan. “Nomor satu kesehatan ditentukan dari makanan, bukan olahraga,” kata Tirta. Sayangnya, rata-rata orang Indonesia masih kurang mengonsumsi protein. Padahal, protein penting untuk otot, saraf, hingga otak.
Ia menekankan pentingnya pola makan variatif. Diet ekstrem seperti carnivore atau plant-based total memang tren, tetapi memiliki risiko jika dijalani tanpa pengawasan. “Pola makan terbaik itu seimbang: ada karbo, protein, vitamin, mineral,” tambahnya.
Baca Juga: Rahasia Perawatan Rumah: 12 Trik Jenius Menggunakan Barang Sehari-hari
Olahraga untuk Longevity
Meski makanan lebih penting, olahraga tetap tidak bisa diabaikan. Tirta menyarankan kombinasi angkat beban dan kardio. Jika waktu terbatas, cukup 40 menit angkat beban dan 20 menit jalan cepat atau treadmill. “Tujuan olahraga bukan Cuma bentuk badan, tapi longevity—memperpanjang umur sehat,” jelasnya.
Genetik memang berpengaruh terhadap bentuk tubuh, ada orang yang sulit membesarkan otot meski sudah rutin olahraga. Namun manfaat kesehatan tetap akan terasa.
Intermittent Fasting: Start Slow
Intermittent fasting (IF) menjadi pola makan populer belakangan ini. Tirta mengakui manfaatnya nyata: mengatur gula darah, mencegah obesitas, hingga menekan risiko diabetes. Namun, ia memberi catatan penting: jangan ekstrem di awal.
“Start slow, jangan langsung 18:6. Mulai dari 12:12, nanti naik bertahap. Goal-nya sustainability, jangan sampai stres lalu berhenti,” ujarnya.
Suplemen & Anti-Aging
Soal suplemen, Tirta menilai kebutuhan tergantung pola makan. Jika gizi harian tercukupi, suplemen bisa diminimalkan. Tetapi setelah usia 30-an, ada baiknya menambahkan Vitamin D3 (1000–5000 IU) dan Vitamin B kompleks. Vitamin C cukup dari buah.
Ia juga menyinggung perkembangan stem cell sebagai masa depan dunia kesehatan. Teknologi ini memungkinkan peremajaan sel, anti-aging, hingga operasi non-invasif. “Di Jerman, Korea, Jepang, Taiwan, stem cell sudah jadi prioritas riset longevity,” ungkapnya. Meski begitu, biaya masih sangat tinggi dan belum bisa diakses semua orang.
Tidur & Kesehatan Mental
Seiring bertambahnya usia, kualitas tidur malam menurun. Itulah mengapa tidur siang menjadi penting, khususnya setelah usia 30–35 tahun. “Tubuh memang butuh rehat tambahan,” kata Tirta.
Ia juga menyoroti kaitan makanan ultra-proses dengan kesehatan mental. Kandungan gula berlebih dapat memicu peningkatan hormon kortisol yang berhubungan dengan stres. Ditambah lagi, banyak orang terjebak dalam overthinking karena ekspektasi tidak sesuai realita.
Pesan dr. Tirta sederhana namun mendasar: pola hidup sehat bukan soal ikut tren, melainkan konsistensi. “Investasi terbesar itu pola makan sehat dan olahraga rutin. Jangan cari instan, karena kesehatan itu hasil kebiasaan jangka panjang,” pungkasnya.
Editor : M. Subchan Abdullah