BLITAR-Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Tirta, membantah keras mitos lama soal bahaya mi instan bagi kesehatan.
Menurutnya, persoalan bukan terletak pada mi instan atau junk food, melainkan gaya hidup dan pola makan masyarakat.
Pernyataan ini disampaikan dr. Tirta dalam sebuah podcast yang membahas mitos kesehatan populer di kalangan anak muda.
Ia menegaskan, tubuh manusia punya sistem pencernaan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar menelan mi instan.
“Usus enggak sebego itu. Kalau ada yang bilang mie instan butuh dua hari untuk dicerna, itu mitos yang menyesatkan,” ujar dr. Tirta.
Mitos Mi Instan
Selama bertahun-tahun, mi instan dianggap makanan yang membahayakan kesehatan.
Banyak beredar cerita bahwa mi instan menempel di usus hingga berhari-hari sebelum bisa dicerna.
Dr. Tirta menepis anggapan tersebut dengan tegas.
Menurutnya, usus manusia dirancang untuk memproses berbagai jenis makanan, termasuk mi instan.
Namun, ia tidak menutup mata bahwa mi instan memang tidak mengandung gizi seimbang.
Karena itu, konsumsi berlebihan bisa menimbulkan dampak negatif jika tidak dibarengi dengan makanan bergizi lainnya.
Bahaya Sesungguhnya
Lebih jauh, dr. Tirta menjelaskan bahwa masalah kesehatan justru muncul ketika seseorang menjadikan mi instan sebagai makanan pokok harian.
Ia menyebut banyak anak kos yang terlalu sering mengandalkan mi instan karena praktis dan murah.
“Mi instan itu boleh dimakan, tapi jangan tiap hari. Campur dengan telur, sayur, atau protein lain biar seimbang,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa banyak orang keliru dengan konsep “olahraga menebus pola makan”.
Menurutnya, berlari 10 kilometer sekalipun tidak akan menetralkan dampak buruk jika pola makan tetap kacau.
Baca Juga: Berikut Menu Best Seller di Wizzmie Blitar, Selain Mie, Ada Menu Lain yang Harus Kalian Coba!
Junk Food dan Gaya Hidup Modern
Selain mi instan, dr. Tirta juga menyoroti pola konsumsi junk food yang makin marak di kalangan generasi muda.
Makanan cepat saji yang tinggi garam, gula, dan lemak trans sering dipilih karena praktis.
Ia menyebut kebiasaan ini berbahaya dalam jangka panjang.
Risiko penyakit metabolik seperti obesitas, diabetes, hingga hipertensi mengintai jika junk food dikonsumsi tanpa kontrol.
Menurut dr. Tirta, kunci utama adalah keseimbangan.
Sesekali makan burger atau mi instan tidak masalah, asal tidak menjadi kebiasaan harian.
Pola Tidur dan Aktivitas
Dalam podcast tersebut, dr. Tirta juga menyinggung faktor gaya hidup lain yang tak kalah penting.
Ia menyoroti kebiasaan begadang, kerja shift malam, hingga pola tidur yang berantakan sebagai pemicu penyakit modern.
“Tubuh punya jam biologis yang enggak bisa dibohongi. Kalau rusak, dampaknya bisa muncul di mana-mana, termasuk pencernaan,” jelasnya.
Kombinasi pola makan buruk dengan kurang tidur menurutnya menjadi penyebab utama penyakit anak muda, mulai dari GERD hingga obesitas.
Pesan untuk Anak Muda
Di akhir pernyataannya, dr. Tirta mengajak generasi muda untuk lebih kritis terhadap informasi kesehatan yang beredar.
Ia menekankan pentingnya edukasi berbasis sains, bukan mitos.
“Jangan gampang percaya broadcast yang bilang mi instan bikin usus lengket atau junk food langsung bikin kanker. Yang bahaya itu gaya hidupmu sendiri,” pungkasnya.
Pesan tersebut sejalan dengan tren kesehatan global yang menekankan keseimbangan.
Masyarakat diingatkan untuk mengatur pola makan, tidur cukup, dan rutin beraktivitas fisik.
Baca Juga: Iga Panggang Panglima, Menu Andalan Kuliner Gandaria yang Wajib Dicoba
Dengan pola hidup sehat, konsumsi mi instan atau junk food sesekali tidak akan membawa masalah berarti.
Sebaliknya, jika gaya hidup berantakan, bahkan makanan biasa pun bisa memicu gangguan kesehatan serius.