Anxiety di Usia 20-an: Musuh atau Pendorong Potensi?
Nikmah Laila• Senin, 29 September 2025 | 06:00 WIB
Photo
BLITAR KAWENTAR – Rasa cemas sering kali dipandang sebagai hambatan dalam hidup, terutama bagi mereka yang berada di usia 20-an. Fase ini identik dengan transisi menuju kemandirian, karier pertama, hingga pencarian jati diri. Namun, psikolog sekaligus penulis, Nago Tejena, menilai kecemasan justru bisa menjadi energi positif jika dipahami dengan benar.
Menurutnya, kecemasan muncul karena manusia memiliki kemampuan memikirkan masa depan. “Anxiety hadir ketika kita membayangkan apa yang bisa dicapai, sekaligus apa yang mungkin gagal,” ujarnya. Meski tidak nyaman, perasaan ini berfungsi layaknya alarm. Ia mengingatkan seseorang untuk bersiap, memperbaiki diri, dan lebih berhati-hati dalam melangkah.
Sayangnya, banyak orang justru terjebak pada sisi negatif kecemasan. Tak sedikit yang mengubur mimpinya karena takut gagal. Fenomena ini sering ditemui pada generasi muda yang berhenti mencoba setelah satu kali terjatuh. Padahal, pertumbuhan sejati datang dari keberanian menghadapi seluruh spektrum emosi tak hanya bahagia, tetapi juga takut, malu, hingga sedih.
Gambaran menarik tentang hal ini muncul dalam film Inside Out 2. Karakter Riley digambarkan mengalami dominasi anxiety dalam pikirannya. Walau terasa mengganggu, pada akhirnya film itu menegaskan bahwa semua emosi baik marah, sedih, malu, maupun bahagia memiliki peran penting dalam proses bertumbuh. Pesan tersebut selaras dengan pandangan psikologi bahwa tidak ada emosi yang sepenuhnya buruk; yang penting adalah bagaimana seseorang mengelolanya.
Budaya media sosial turut memperumit dinamika ini. Tekanan untuk tampil sempurna dan membandingkan diri dengan pencapaian orang lain menciptakan standar tidak realistis. Akibatnya, ruang untuk gagal semakin sempit, dan rasa percaya diri mudah runtuh. Generasi muda pun kerap kehilangan resiliensi yang dulu mereka miliki saat masih anak-anak ketika jatuh, mereka cepat bangkit dan mencoba lagi.
Dalam konteks ini, kecemasan bisa dipahami sebagai dua sisi mata uang. Di satu sisi, ia bisa melumpuhkan langkah jika dibiarkan tanpa kendali. Namun di sisi lain, ia bisa menjadi pendorong potensi. Ketika seseorang belajar mengakui rasa cemas, bukan menolaknya, energi itu dapat diarahkan untuk hal produktif. Misalnya, mempersiapkan presentasi lebih matang, merencanakan langkah karier dengan hati-hati, atau menata ulang prioritas hidup.
Nago Tejena menekankan bahwa kunci menghadapi anxiety bukanlah mengusirnya, melainkan berdamai dengannya. Dengan berani bermimpi, mengambil langkah kecil, dan memberi ruang pada kegagalan, generasi muda dapat menjadikan kecemasan sebagai motor pertumbuhan. “Anxiety tidak harus jadi musuh. Ia bisa menjadi pendorong jika kita belajar melihatnya sebagai energi untuk bergerak,” pesannya.
Bagi kaum muda di usia 20-an, memahami peran kecemasan berarti juga memahami diri sendiri. Dengan cara itu, kecemasan bukan lagi beban, melainkan tanda bahwa mereka sedang berada di ambang perubahan besar dalam hidup.