BLITAR - Di tengah maraknya kafe modern dengan fasilitas digital serba lengkap, Kedai Kopi Sanding Omah memilih jalannya sendiri. Sejak berdiri pada 2020, kedai ini justru ramai meski tanpa wifi.
Dengan konsep yang sederhana, lungguh jagong, duduk santai sambil bercengkerama.
Nuansa vintage langsung terasa begitu kaki melangkah masuk.
Meja kayu sederhana berpadu dengan dekorasi klasik seperti kamera analog, televisi tua, majalah lawas, hingga hiasan dinding jadul yang membangun suasana hangat.
Tak jarang, obrolan akrab lebih mendominasi dibandingkan layar gawai. Bagi banyak pengunjung, atmosfer ini menjadi pengalaman berbeda dari kafe modern yang sibuk dengan koneksi internet.
Pemilik kedai, Ahmad Irfan, menuturkan bahwa inspirasinya datang setelah berhenti bekerja di pabrik dan memilih membantu orang tuanya berjualan di toko kelontong. Dari pengalaman itu, dia belajar berdagang dan akhirnya bertekad membuka kedai kopi.
“Karena lokasinya di samping rumah, saya namakan Kedai Kopi Sanding Omah,” ujar pria 35 tahun ini.
Awalnya, kedai ini berdiri di Desa Njiwut, Kecamatan Nglegok. Namun, karena sebagian besar pelanggan berasal dari sekitar kota, Irfan memutuskan memindahkannya ke Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan.
Perpindahan itu justru membawa berkah dengan jumlah pengunjung yang meningkat 40 hingga 60 persen setiap tahun.
Kedai ini menargetkan pengunjung berusia 30 tahun ke atas, khususnya pekerja dan keluarga. Buka setiap hari pukul 08.00 hingga 21.00, kecuali Senin, suasana paling ramai biasanya ada pada sore hingga malam.
“Harapan saya, kedai ini bisa lebih berkembang dan dikenal lebih banyak pelanggan baru. Tahun depan, kami juga berencana mengubah tata letak agar suasana makin nyaman, meski konsep tetap sama,” tuturnya.
Menariknya, di salah satu sudut kedai tersedia papan khusus untuk menempelkan sticky note. Lembar-lembar kecil berwarna-warni itu berisi pesan, kesan, hingga curahan hati pengunjung yang ingin meninggalkan jejak di Sanding Omah.
Ada yang menulis tentang manisnya kopi, ada pula yang sekadar menitip doa dan cerita singkat.
“Catatan itu menjadi bukti sederhana bahwa kedai ini bukan hanya ruang singgah, tetapi juga tempat orang-orang berbagi rasa,” ungkapnya. (mg5/c1/ady) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah