Dari Gaya Santai Dokter Tirta hingga Keseriusan Elon Musk, Ternyata Ada Pola Tertentu yang Membuat Mereka Efektif Berkomunikasi di depan Publik
Rahma Nur Anisa• Selasa, 30 September 2025 | 00:00 WIB
Dokter Tirta hingga Elon Musk: Belajar Public Speaking dari Para Ahli
BLITAR KAWENTAR - Dunia hiburan dan bisnis dipenuhi tokoh-tokoh yang memukau audiens melalui kemampuan berbicara di depan umum. Namun, tidak semua menggunakan gaya yang sama. Ada yang santai seperti percakapan biasa, ada pula yang serius namun tetap memikat.
Dokter Tirta menjadi contoh menarik pembicara level tertinggi di Indonesia. Baik dalam podcast maupun seminar, ia mampu menjelaskan topik medis kompleks dengan gaya percakapan yang santai namun tetap informatif.
Kelebihan Dokter Tirta terletak pada kemampuannya mengemas informasi berat menjadi mudah dipahami tanpa kehilangan esensi. Gayanya yang natural membuat audiens merasa seperti sedang berdiskusi dengan teman, bukan mendengar ceramah formal.
Di sisi lain, Elon Musk menunjukkan bahwa gaya penyampaian bukanlah segalanya. Ketika menjelaskan konsep "first principle thinking," Musk tampil dengan gaya yang cenderung kaku, terbata-bata, dan sangat serius.
Namun, bagi kalangan yang memahami topiknya, penjelasan Musk tentang cara berpikir dari prinsip dasar ini sangat berharga. Ia membuktikan bahwa substansi materi dapat mengompensasi kekurangan dalam teknik penyampaian.
Analisis terhadap berbagai pembicara sukses menunjukkan pola yang konsisten. Mereka yang berada di level tertinggi selalu menguasai materinya dengan sempurna, terlepas dari gaya penyampaian yang dipilih.
Para pembicara handal juga mahir memanfaatkan "celah pengetahuan" audiens. Mereka memahami apa yang sudah diketahui penonton, lalu menyajikan perspektif baru yang memperdalam atau bahkan menantang pemahaman yang ada.
Teknik ini mirip dengan yang digunakan komedian stand-up dalam menciptakan "punchline." Bedanya, pembicara serius menggunakan fakta atau wawasan baru sebagai "kejutan" yang membuat audiens terkesan.
Menariknya, pembicara handal juga fleksibel mengubah gaya sesuai konteks dan audiens. Dokter Tirta mungkin akan lebih formal saat berbicara di konferensi medis internasional, sementara Musk bisa lebih santai saat berdiskusi dengan rekan dekat.
Kemampuan adaptasi ini menunjukkan tingkat penguasaan yang tinggi. Mereka tidak terpaku pada satu gaya, melainkan memilih pendekatan yang paling efektif untuk menyampaikan pesan kepada audiens spesifik.
Bagi yang baru belajar, contoh-contoh ini mengajarkan bahwa tidak ada formula tunggal untuk sukses. Kunci utamanya adalah persiapan mendalam dan pemahaman yang utuh terhadap materi yang akan disampaikan.
Setelah menguasai substansi, barulah mengembangkan gaya penyampaian yang sesuai dengan kepribadian dan nyaman untuk digunakan. Yang terpenting adalah memastikan pesan tersampaikan dengan efektif, bukan sekadar terlihat menarik.
Para ahli menyarankan untuk memulai dengan gaya yang lebih formal dan serius, seperti yang dilakukan Musk. Setelah kepercayaan diri terbangun, baru secara bertahap mengembangkan gaya yang lebih natural dan conversational. (*)