BLITAR KAWENTAR - Anggapan bahwa makanan tradisional Indonesia seperti bakso, nasi Padang, dan siomay tidak sehat ternyata tidak sepenuhnya benar. Menurut pakar kebugaran Ade Rai, kunci utamanya terletak pada cara konsumsi dan kombinasi yang tepat, bukan menghindari makanan tersebut sama sekali.
Dalam sebuah wawancara, Ade Rai menjelaskan bahwa masalah kesehatan masyarakat Indonesia lebih disebabkan oleh pola hidup sedentari (kurang gerak) ketimbang jenis makanan yang dikonsumsi. Data menunjukkan 95 persen klaim BPJS Kesehatan berkaitan dengan penyakit tidak menular yang dipicu perilaku tidak sehat.
Untuk bakso, Ade Rai menyarankan menghindari mie agar tidak terjadi penumpukan karbohidrat ganda. Bakso sudah mengandung protein, lemak, dan sedikit tepung sebagai karbohidrat, sehingga penambahan mie akan meningkatkan beban gula darah.
Baca Juga: Cair Dobel! PKH dan BPNT 2025 Tiba-Tiba Masuk Rekening, Penerima Kaget Tarik Rp1,2 Juta
Siomay dinilai lebih sehat karena mengandung serat dari kol dan pare, protein dari telur dan ikan, serta karbohidrat dari kentang. Kunci konsumsinya adalah memilih maksimal tiga komponen dan menempatkan sambal kacang di pinggir untuk mengurangi asupan kalori.
Untuk ayam goreng, disarankan mengelap minyak berlebih dengan tisu dan membuang kulit krispi yang mengandung banyak tepung. Jika ingin makan kulit ayam, pilih yang original dan hindari nasi sebagai pengganti sumber energi.
Ade Rai mengklaim masakan Sunda sebagai yang paling sehat di Indonesia karena dominasi lalapan mentah dan teknik memasak yang sederhana. Makanan seperti lotek, karedok, dan ketoprak dinilai sangat baik karena kombinasi serat, protein, dan lemak sehat.
Baca Juga: Cair Juni! BSU 2025 Cuma Sekali, Ternyata Segini Uang yang Didapat Pekerja dan Guru Honorer
Bahkan nasi Padang pun dianggap sehat karena menggunakan santan (minyak kelapa) yang termasuk lemak baik. Masalahnya bukan pada jenis makanan, tetapi kebiasaan mengonsumsi rendang dengan nasi yang menciptakan kombinasi lemak dan karbohidrat berlebihan.
Salah satu kunci penting yang diungkap Ade Rai adalah urutan konsumsi makanan. Disarankan memulai dengan sayuran atau protein terlebih dahulu sebelum karbohidrat untuk memperlambat lonjakan gula darah.
Teknik lain adalah mengonsumsi air hangat dengan perasan lemon atau cuka apel sebelum makan untuk memperlambat penyerapan gula. Setelah makan, olahraga ringan seperti jalan kaki dapat membantu otot menyerap gula darah sebelum disimpan sebagai lemak.
Baca Juga: Ampuh Banget! Begini Cara Usir Lalat dari Rumah Tanpa Ribet, Cuma Pakai Barang Sehari-hari
Ade Rai menekankan pentingnya mengubah persepsi bahwa makanan enak pasti tidak sehat. Menurutnya, masalah utama bukan pada makanan tradisional Indonesia, melainkan kurangnya aktivitas fisik dan pengetahuan tentang cara konsumsi yang benar.
Pendekatan "all or nothing" dalam diet justru kontraproduktif. Seseorang tetap bisa menikmati makanan favorit asalkan diimbangi dengan olahraga teratur dan pemahaman yang benar tentang kombinasi makanan.
Yang perlu diperhatikan bukan sekadar menurunkan berat badan, tetapi memperbaiki komposisi tubuh. Tulang harus kuat, otot kencang, dan lemak dalam proporsi yang tepat. Hal ini hanya bisa dicapai melalui kombinasi pola makan sehat dan aktivitas fisik teratur.
Baca Juga: Heboh! HP Oppo Tiba-Tiba Muncul Iklan Sendiri, Begini Cara Ampuh Mengatasinya
Ade Rai mengingatkan bahwa tubuh manusia sangat toleran terhadap perlakuan buruk, sehingga dampak negatif pola hidup tidak sehat tidak langsung terasa. Namun, efek jangka panjangnya dapat mempercepat penuaan dan meningkatkan risiko penyakit degeneratif. (*)
Editor : M. Subchan Abdullah