BLITAR KAWENTAR - Dalam masyarakat yang penuh ekspektasi, banyak orang terjebak untuk hidup sesuai standar orang lain. Namun, sebuah pandangan menarik menyarankan agar setiap individu berani tetap setia pada dirinya sendiri.
Narasumber menyampaikan, orang yang benar-benar memahami kita tidak akan membenci, sementara yang membenci tak akan pernah benar-benar memahami. Dengan demikian, upaya menyenangkan semua orang hanya akan menguras energi tanpa hasil.
Ia mencontohkan, sering kali seseorang dituduh sombong hanya karena enggan meminjamkan uang. Padahal, keputusan itu lahir dari prinsip menjaga diri. Jika orang lain menjauh hanya karena hal itu, berarti hubungan tersebut memang tidak sehat.
Pandangan ini juga berlaku dalam konteks lebih luas. Banyak konflik keluarga terjadi ketika anak dipaksa mengikuti jalan hidup yang dipilih orang tua. Akibatnya, anak bisa tumbuh dengan perasaan tertekan dan bahkan membenci orang tuanya.
Ia menekankan, manusia memang cenderung egois. Bahkan ketika melihat foto bersama, fokus pertama biasanya tertuju pada wajah sendiri. Kesadaran ini perlu dipahami agar kita tidak hidup semata-mata demi validasi orang lain.
Menjadi diri sendiri bukan berarti menutup diri dari kritik, melainkan memilih untuk tidak hidup di bawah bayang-bayang penilaian orang. Karena pada akhirnya, hanya kita yang akan menjalani hidup kita sendiri.
Editor : M. Subchan Abdullah