Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

50 Juta Startup Lahir Tiap Tahun, Tapi 90 Persen Hancur Sebelum 10 Tahun!

Axsha Zazhika • Selasa, 30 September 2025 | 23:10 WIB

 

50 Juta Startup Lahir Tiap Tahun, Tapi 90 Persen Hancur Sebelum 10 Tahun!
50 Juta Startup Lahir Tiap Tahun, Tapi 90 Persen Hancur Sebelum 10 Tahun!

BLITAR - Startup kerap digambarkan sebagai kisah sukses instan, dari ide gila di garasi hingga jadi unicorn. Namun, kenyataannya pahit: 90 persen startup gagal.

Data terbaru menyebutkan ada 50 juta startup lahir setiap tahun di seluruh dunia. Artinya, hampir 95 startup tercipta setiap menit. Namun, hanya 10 persen yang bertahan hidup hingga melewati usia 10 tahun.

Fenomena ini mengguncang persepsi publik. Banyak yang mengira kegagalan startup disebabkan ide yang kurang cemerlang. Padahal, masalah utamanya jauh lebih kompleks.

Sejumlah penelitian menegaskan faktor terbesar kegagalan startup bukan pada ide. “Banyak startup punya ide keren, dukungan investor, dan pasar yang tepat. Tapi operasionalnya berantakan. Itu yang bikin mereka tumbang,” ujar seorang pengamat ekonomi dalam diskusi publik.

Ia menambahkan, analoginya seperti memasak steak. Daging wagyu sudah tersedia, bumbu lengkap, dan peralatan premium. Namun, jika masaknya asal-asalan, hasilnya gosong juga. “Jadi bukan bahan yang salah, melainkan cara mengolahnya,” tegasnya.

Selain persoalan operasional, ada beberapa penyebab lain. Banyak startup gagal mencari investor lanjutan, tidak mampu membaca kebutuhan pasar, hingga kalah bersaing dengan pemain besar.

Ada pula kasus di mana perusahaan kehabisan dana karena terlalu agresif bakar uang. Program promosi besar-besaran, diskon, hingga gratis ongkir justru jadi bumerang jika tanpa perencanaan matang.

“Ketika strategi bakar uang tidak seimbang dengan arus kas, beban keuangan makin berat. Ujungnya, beberapa startup terpaksa menutup lapaknya,” jelas pakar tersebut.

Kegagalan juga datang dari manajemen keuangan internal. Beberapa pendiri startup merasa aman setelah mendapat pendanaan, lalu menggunakannya untuk hal-hal yang tidak krusial.

Bayangkan startup seperti mobil. Dana investor adalah bensinnya. Jika mesin mobil rusak, seberapa banyak bensin pun tidak akan membuatnya berjalan. Begitulah banyak bisnis rintisan yang akhirnya tersendat.

Visi dan kemampuan beradaptasi juga jadi faktor penting. Tidak sedikit startup hanya ikut-ikutan tren pasar tanpa fondasi jelas. Begitu tren memudar, bisnis pun ambruk.

Studi bahkan mencatat, lebih dari separuh startup yang akhirnya sukses pernah mengubah arah bisnis setidaknya sekali. Namun, tidak semua pendiri siap menerima kenyataan bahwa ide awal mereka tidak cukup kuat.

Meski angka kegagalan tinggi, peluang tetap terbuka. Ahli menekankan pentingnya sistem operasional berbasis teknologi. Riset McKinsey menyebut, perusahaan yang memanfaatkan teknologi untuk manajemen bisa meningkatkan produktivitas hingga 30 persen.

Platform manajemen terpadu seperti ERP (Enterprise Resource Planning) memungkinkan bisnis lebih efisien. Dari penjualan online, pengadaan barang, hingga laporan keuangan, semua bisa terintegrasi dalam satu sistem.

“Dengan operasional yang rapi, startup lebih mudah di-scale up. Kalau pondasinya kokoh, bisnis bisa tumbuh lebih tinggi tanpa roboh,” kata pengamat tersebut.

Pesan ini relevan bagi para pelaku usaha muda. Dunia startup bergerak cepat, penuh tantangan, dan tidak ada jaminan sukses. Namun, dengan belajar dari kegagalan 90 persen startup lainnya, risiko bisa ditekan.

Artikel ini bukan untuk menakut-nakuti calon pendiri startup, melainkan memberi gambaran nyata. Kegagalan massal ini justru bisa jadi bahan edukasi agar pengusaha muda tidak terjebak di lubang yang sama.

Pada akhirnya, hanya startup dengan kombinasi ide kuat, pendanaan sehat, visi jelas, dan operasional rapi yang berpeluang masuk 10 persen teratas.

Apakah Anda siap menjadi bagian dari 10 persen yang bertahan?

 

Editor : Anggi Septian A.P.
#bisnis #startup #ekonomi