BLITAR – Industri sablon kaus menjadi salah satu sektor usaha kreatif yang terus berkembang di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Blitar.
Permintaan masyarakat terhadap kaus dengan desain khusus untuk acara komunitas, pawai, hingga kegiatan sekolah semakin meningkat. Namun, banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sablon masih terkendala dalam proses produksi, terutama pada tahap pengeringan.
Selama ini, sebagian besar UMKM masih menggunakan hot gun dryer manual yang membutuhkan waktu cukup lama, boros energi, dan menghasilkan kualitas sablon yang kurang konsisten.
Akibatnya, kapasitas produksi terbatas, biaya operasional tinggi, serta peluang pasar sering terlewatkan karena keterbatasan memenuhi permintaan dalam jumlah besar.
Menjawab tantangan tersebut, tim dosen Universitas Negeri Malang yang terdiri dari Dr Windra Irdianto SPd MPd, Ir M. Ihwanudin SPd MPd, dan Vertic Eridani Budi Darmawan ST MSc, bersama mahasiswa pendukung yakni Ayu Windiasari dan Ivan Fauzan, menerapkan teknologi tepat guna Flash Curing Gas Autoslide.
Alat ini memanfaatkan gas LPG sebagai sumber panas dan dilengkapi sistem autoslide (pergerakan otomatis) yang membuat proses pengeringan lebih cepat, merata, dan hemat energi.
Inovasi ini diterapkan melalui skema program Pengabdian Kepada Masyarakat Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) dengan dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.
Hasil penerapan teknologi ini sangat signifikan. Waktu pengeringan yang semula mencapai sekitar 20 detik per area kerja, kini hanya membutuhkan sekitar 3–4 detik, atau lebih efisien hingga 80–85 persen. Kapasitas produksi meningkat hampir empat kali lipat, biaya operasional turun sekitar 30 persen, dan kualitas sablon menjadi lebih konsisten, rapi, serta tahan lama.
Dampaknya juga terasa pada aspek pemasaran. Dengan kapasitas yang lebih besar, UMKM SIMPLE Sablon di Desa Duren, Kecamatan Talun, mencatat kenaikan penjualan hingga 40–60 persen.
Bahkan, pada momen pawai dan karnaval bulan Agustus, usaha ini mampu menerima limpahan order dari kompetitor yang tidak sanggup memenuhi permintaan massal.
Di sisi lain, mitra juga mulai bertransformasi ke pemasaran digital dengan mendaftar pada platform e-commerce untuk memperluas jangkauan pasar.
“Kami berharap teknologi ini bisa menjadi contoh penerapan inovasi tepat guna yang benar-benar membantu UMKM naik kelas,” ujar Dr Windra Irdianto SPd MPd, ketua tim pelaksana.
Kisah sukses SIMPLE Sablon membuktikan bahwa inovasi sederhana mampu membawa perubahan besar.
Dengan dukungan pendanaan pemerintah dan sinergi antara perguruan tinggi serta pelaku usaha, teknologi tepat guna seperti Flash Curing Gas Autoslide dapat menjadi motor penggerak pemberdayaan UMKM sekaligus penguatan ekonomi masyarakat berbasis kearifan lokal. (*/c1/ynu) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah