Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Tempe: Superfood Tradisional yang Kembali Trending di Era Hidup Sehat

Rahma Nur Anisa • Rabu, 1 Oktober 2025 | 16:00 WIB

Dalam tren gaya hidup sehat modern, tempe kembali mendapat sorotan sebagai superfood lokal Indonesia.
Dalam tren gaya hidup sehat modern, tempe kembali mendapat sorotan sebagai superfood lokal Indonesia.

BLITAR KAWENTAR - Dalam tren gaya hidup sehat modern, tempe kembali mendapat sorotan sebagai superfood lokal Indonesia. Makanan fermentasi tradisional ini menawarkan solusi protein berkelanjutan yang sempurna untuk vegetarian, vegan, dan pencinta makanan sehat di seluruh dunia.

Era kesadaran akan pangan sehat telah membawa tempe dari status makanan tradisional "kampungan" menjadi tren kuliner global. Makanan yang telah ada sejak abad ke-17 di Jawa ini kini dipandang sebagai jawaban atas kebutuhan protein alternatif yang sehat dan berkelanjutan.

Keunggulan nutrisi tempe tidak dapat dipandang sebelah mata. Proses fermentasi dengan jamur Rhizopus oligosporus menghasilkan protein lengkap dengan asam amino esensial yang mudah diserap tubuh.

Baca Juga: “Viral! Cara Pinjam Uang di Aplikasi Dana Tanpa KTP & Tanpa Bunga, Bisa Cair Puluhan Juta”

Kandungan probiotik alaminya mendukung kesehatan pencernaan, sementara isoflavon-nya berperan sebagai antioksidan yang melawan radikal bebas. Dengan kandungan protein tinggi namun rendah lemak jenuh, tempe menjadi pilihan ideal untuk diet seimbang.

Yang menarik, tempe tradisional Indonesia menggunakan proses fermentasi alami tanpa starter buatan. Nenek moyang kita memanfaatkan mikroorganisme yang terdapat pada daun jati, daun waru, atau daun pisang sebagai media fermentasi. Metode ini menghasilkan tempe dengan karakteristik rasa dan tekstur yang unik, berbeda dengan tempe komersial modern yang menggunakan starter industri.

Dalam konteks gaya hidup berkelanjutan, tempe menjadi pilihan protein yang ramah lingkungan. Produksinya memerlukan air dan energi lebih sedikit dibandingkan protein hewani. Jejak karbon yang rendah membuat tempe sejalan dengan prinsip-prinsip green living yang semakin populer di kalangan milenial dan generasi Z.

Baca Juga: Diskon Gila! Skincare Rp100 Ribu Jadi Cuma Rp20 Ribu di Blitar Beauty Carnival

Fleksibilitas kuliner tempe memungkinkan adaptasi dengan berbagai selera dan budaya. Di Indonesia, tempe diolah menjadi tempe mendoan, tempe bacem, atau tempe orek. Di luar negeri, tempe diadaptasi menjadi burger patties, salad toppings, atau bahkan dessert. Kreativitas pengolahan ini membuktikan bahwa makanan tradisional dapat beradaptasi dengan tren kuliner modern tanpa kehilangan identitas asalnya.

Tren fermented foods yang sedang populer di dunia kesehatan menempatkan tempe sebagai salah satu pilihan utama. Berbeda dengan kimchi atau kombucha yang relatif baru dikenal, tempe telah melalui uji waktu ratusan tahun sebagai makanan fermentasi yang aman dan bergizi.

Bagi praktisi gaya hidup plant-based, tempe menawarkan alternatif protein yang tidak hanya bergizi tetapi juga memiliki umami yang kuat. Teksturnya yang padat dan kemampuan menyerap bumbu membuatnya mudah diolah menjadi berbagai hidangan yang memuaskan.

Baca Juga: Ribuan Orang Serbu Blitar Beauty Carnival, UMKM dan Hotel Ikut Kebanjiran Rezeki

Dalam era informasi ini, banyak influencer kesehatan dan chef internasional yang mulai mengeksplorasi tempe sebagai bahan masakan. Media sosial dipenuhi resep-resep kreatif tempe yang memadukan tradisi Indonesia dengan tren kuliner global.

Kembalinya tempe sebagai tren gaya hidup sehat membuktikan bahwa kearifan lokal Indonesia memiliki relevansi global. Makanan sederhana dari kedelai fermentasi ini mengajarkan bahwa kesehatan dan kelezatan tidak selalu harus mahal atau rumit, tetapi dapat ditemukan dalam tradisi yang telah teruji waktu. (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#Trending #makanan tradisional #makanan fermentasi #tempe #indonesia #superfood #lokal #hidup sehat