BLITAR-Air Terjun Sedudo di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, bukan hanya terkenal karena keindahan alamnya. Setiap bulan Suro, masyarakat masih melestarikan ritual unik berupa penyiraman patung di bawah derasnya aliran air terjun. Tradisi ini dikenal dengan nama Parna Prahisa.
Ritual yang digelar setiap tanggal 1 Suro ini selalu menarik perhatian warga dan wisatawan. Patung yang disiram dipercaya sebagai simbol penyucian diri sekaligus doa untuk keberkahan hidup. Meski terlihat aneh bagi sebagian orang, tradisi ini tetap dijaga turun-temurun oleh masyarakat sekitar.
“Setiap Suro, warga berbondong-bondong datang ke Sedudo. Bukan hanya untuk wisata, tapi juga ikut dalam ritual siraman yang dipercaya membawa berkah dan awet muda,” kata Ujang Zal Hadri, Kasubdit Objek dan Daya Tarik Wisata Disparbud Nganjuk.
Air Terjun Sedudo sendiri terletak di Desa Ngeliman, Kecamatan Sawahan, di lereng Gunung Wilis. Dengan ketinggian sekitar 105 meter, air terjun ini menyajikan panorama memukau dan udara pegunungan yang sejuk. Suasana mistis makin terasa ketika malam 1 Suro tiba, saat ratusan warga berkumpul melakukan ritual.
Keunikan ritual siraman patung ini sudah berlangsung ratusan tahun. Menurut sejarah, Sedudo diyakini sebagai tempat sakral yang diciptakan tokoh lokal bernama Sanak Pogalan. Sebagian masyarakat percaya bahwa air Sedudo mengandung khasiat khusus, mulai dari obat panjang umur hingga penolak bala.
Dari sisi ilmiah, legenda juga menyebutkan adanya rempah-rempah yang tumbuh di hutan sekitar sumber air. Konon, kandungan inilah yang membuat air Sedudo dipercaya bisa menjaga kesehatan dan membuat kulit tetap awet muda.
Meski banyak yang menganggapnya sebagai tahayul, nyatanya mitos ini justru menjadi daya tarik wisata. Setiap tahun, ribuan orang datang, baik sekadar menikmati alam maupun mencoba “menguji” khasiat air Sedudo.
Tak hanya itu, pemerintah Kabupaten Nganjuk juga menjadikan ritual siraman sebagai agenda tahunan wisata budaya. Tradisi ini diharapkan bisa menjaga identitas lokal sekaligus meningkatkan kunjungan wisatawan.
Namun, di era modern seperti sekarang, tradisi ini tak lepas dari pro kontra. Sebagian kalangan menilai penyiraman patung hanyalah praktik mistis yang tidak sesuai logika. Di sisi lain, masyarakat adat melihatnya sebagai bagian dari warisan budaya yang harus dijaga.
“Kalau soal percaya atau tidak, itu kembali ke masing-masing. Yang jelas, tradisi ini adalah identitas Nganjuk yang tak bisa dipisahkan dari Air Terjun Sedudo,” ujar Hari Mintaji, salah satu tokoh sejarah lokal.
Ritual siraman patung di Sedudo membuktikan bahwa kebudayaan lokal masih bertahan meski digempur modernisasi. Ia menjadi jembatan antara sejarah, mitos, dan daya tarik wisata.
Kini, setiap kali bulan Suro tiba, Nganjuk seakan menjadi pusat perhatian. Tradisi aneh sekaligus mistis itu selalu memicu rasa penasaran, tak hanya warga lokal tapi juga wisatawan dari berbagai daerah.
Apakah benar air Sedudo bisa membawa berkah dan awet muda? Itu masih menjadi misteri. Namun yang jelas, ritual siraman patung di Sedudo sudah menjelma sebagai simbol keunikan budaya Jawa Timur yang tak lekang oleh zaman.
Editor : Anggi Septian A.P.