BLITAR – Candi Kotes yang terletak di Desa Sukosewu, Kecamatan Gandusari, merupakan peninggalan bersejarah dari masa awal Kerajaan Majapahit.
Situs yang juga dikenal dengan nama Candi Papoh ini diduga merupakan bentuk penghargaan Raden Wijaya kepada masyarakat sekitar yang telah membantunya dalam perang melawan Jayakatwang dari Kediri.
Berdasarkan inskripsi pada batu, Candi Kotes dibangun sekitar 1222 Saka (1300 Masehi) hingga 1223 Saka (1301 Masehi) pada masa pemerintahan Raden Wijaya, raja pertama Majapahit.
Hingga saat ini, fungsi asli Candi Kotes belum sepenuhnya diketahui, tetapi diperkirakan digunakan sebagai tempat pemujaan umat Hindu.
Candi Kotes terdiri dari dua batur utama yang semuanya menghadap ke barat. Dari segi arsitektur, batur pertama memiliki tangga dengan pipi tangga bersudut siku-siku serta altar berbentuk meja.
Di atas batur tersebut juga ditemukan dua altar tambahan dan sebuah miniatur candi. Sementara itu, batur kedua hanya menyisakan beberapa umpak batu yang kemungkinan menjadi fondasi bangunan berbahan kayu.
Kondisi Candi Kotes saat ini masih terawat dengan baik. Area sekitarnya bersih, dan batu-batu yang tidak terpasang pada bangunan utama disusun rapi di bagian belakang.
“Kami selalu berusaha menjaga kebersihan dan kerapian area candi agar tetap lestari dan nyaman dikunjungi,” ujar Sumantri, juru pelihara Candi Kotes.
Sumantri juga menambahkan, bahwa warga setempat pun merasa bangga dengan keberadaan situs ini.
“Candi Kotes ini bukan hanya peninggalan sejarah, tetapi juga warisan budaya. Kami berharap generasi muda bisa lebih mengenalnya dan ikut menjaga kelestariannya,” ungkapnya.
Dengan sejarah panjang dan kondisi yang masih terjaga, Candi Kotes menjadi salah satu bukti kejayaan Majapahit yang tetap hidup di tengah masyarakat Kabupaten Blitar hingga kini. (mg4/ynu) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah