Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Rahasia Menjaga Energi Positif di Tengah Lingkungan Negatif

Sarulloh Adi Prayoga • Jumat, 3 Oktober 2025 | 22:00 WIB
Rahasia Menjaga Energi Positif di Tengah Lingkungan Negatif
Rahasia Menjaga Energi Positif di Tengah Lingkungan Negatif

BLITAR KAWENTAR- Tidak sedikit orang merasa kelelahan meski hanya berbincang sebentar dengan orang lain. Fenomena ini, menurut Pak Wayan Mustika, terjadi karena adanya pertukaran energi antarindividu. Energi positif bisa tersedot habis bila berhadapan dengan energi negatif.

Dalam dialog “Positif Plus”, Pak Wayan Mustika menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk energi. Setiap interaksi sosial membawa konsekuensi pertukaran energi, baik positif maupun negatif. Ia mengibaratkan energi seperti arus listrik, yang selalu mengalir dari tingkat tinggi ke rendah. Artinya, ketika seseorang yang penuh energi positif berinteraksi dengan orang yang pesimis, penuh keluhan, atau marah-marah, maka energi positif itu akan mudah terkuras.

Menurutnya, ada cara agar tidak mudah terseret energi negatif. Kuncinya adalah terhubung dengan kecerdasan semesta. Dengan kecerdasan itu, seseorang memiliki kemampuan kritis untuk menyaring obrolan atau situasi. Ia menyarankan empat pertanyaan sederhana saat menghadapi sebuah percakapan: Apakah ini baik? Benar? Penting? Bermanfaat? Bila jawabannya tidak, sebaiknya energi tidak perlu dihabiskan.

Baca Juga: Usus Enggak Sebego Itu!” Dr. Tirta Bongkar Mitos Mi Instan dan Junk Food

Pak Wayan juga menekankan pentingnya mengelola energi seperti mengatur baterai ponsel. Saat baterai lemah, aplikasi yang tidak perlu harus ditutup agar energi tersisa bisa digunakan untuk hal-hal penting. Dalam konteks kehidupan, ini berarti menghindari beban pikiran berlebihan dan lebih fokus pada prioritas.

Lebih jauh, ia menyarankan latihan spiritual seperti meditasi atau doa untuk kembali “mengisi baterai” energi positif. Kesadaran penuh (eling dan waspada) dibutuhkan agar kita peka saat energi menurun. Ketidaknyamanan, menurutnya, adalah sinyal tubuh dan batin bahwa energi sedang melemah.

Dalam menghadapi banyak orang yang mencurahkan masalah kepadanya, Pak Wayan memilih mengolah curhatan itu menjadi pelajaran. Alih-alih menganggapnya sampah, ia memandang cerita orang lain sebagai bahan yang bisa bermanfaat untuk orang lain. Analogi ini seperti mengubah limbah plastik menjadi batako yang dapat dipijak banyak orang.

Baca Juga: Aneh Bin Tolol!” Dr. Tirta Sindir Orang yang Cuma Lari tapi Makan Sembarangan

Kesimpulan:

Menjaga energi positif bukan hanya soal menghindari orang dengan aura negatif, tetapi juga bagaimana mengelola diri agar tetap terhubung dengan sumber energi yang lebih besar. Dengan sikap kritis, spiritualitas, dan kemampuan mengolah pengalaman, energi positif dapat terus bertahan di tengah lingkungan yang penuh tekanan

Editor : M. Subchan Abdullah
#kecerdasan #spiritual #tips hidup bahagia