BLITAR KAWENTAR - Perjalanan panjang menuju puncak Gunung Talo Banua, Pinrang, Sulawesi Selatan, bukan sekadar pendakian. Ekspedisi ini menjadi kisah tentang konsistensi, keterbatasan waktu, serta perjuangan melawan cuaca dan medan yang menantang.
Ekspedisi Jalur Sunyi kali ini dimulai dari Bandung menuju Makassar dengan jadwal penerbangan yang sempat kacau akibat perubahan maskapai. Setelah menempuh perjalanan darat ke Pinrang, tim inti yang terdiri dari Fiersa Besari dan juru kamera Misbah bertemu dengan pendaki lokal, termasuk Adi dari KPA Sidenreng, Farhan dari tim SAR Lasinrang, serta Henri dari KPA Bintala.
Gunung Talo Banua dipilih karena minim informasi dan jarang dijamah pendaki. Kampung Opang, titik awal pendakian, disebut memiliki panorama yang menakjubkan. Perjalanan menuju lokasi tidaklah mudah. Dari kota Pinrang, rombongan menggunakan motor trail melewati jalur curam, licin, dan hujan deras. Beberapa kali motor jatuh dan ban selip, memperlihatkan betapa beratnya akses menuju kawasan tersebut.
Baca Juga: Lima Nama Lolos Seleksi Administrasi Calon Sekda Kabupaten Blitar, Salah Satunya Sekda Kota Blitar
Meski hujan deras menghalangi langkah, semangat rombongan tidak surut. Mereka sempat beristirahat di rumah warga untuk menunggu reda, sebelum kembali melanjutkan perjalanan ke arah jalur pendakian.
Ekspedisi ini menunjukkan bahwa Talo Banua adalah gunung yang menyimpan potensi wisata alam luar biasa, namun masih tersembunyi karena akses sulit serta minim promosi. Di tengah ramainya Sulawesi Selatan sebagai destinasi pendakian, Talo Banua tetap menjaga auranya sebagai "jalur sunyi" yang eksotis.
Pendakian ke Gunung Talo Banua bukan hanya tentang menaklukkan puncak, melainkan juga merayakan perjalanan. Jalur berat, hujan deras, dan keterbatasan fasilitas membuat setiap langkah penuh makna. Inilah keindahan pendakian: saat tujuan bukan sekadar sampai di atas, melainkan proses menuju ke sana.
Baca Juga: Edukasi Gizi Populer: Ade Rai Patahkan Mitos Makanan Tradisional Indonesia
Editor : M. Subchan Abdullah