BLITAR KAWENTAR - Fenomena fatherless living father kian nyata di Indonesia. Ayah ada di rumah, tetapi absen dalam mendidik anak. Hal ini mengkhawatirkan kualitas generasi mendatang.
Istilah fatherless living father merujuk pada kondisi ketika ayah hidup bersama keluarga namun tidak aktif dalam pendidikan anak. Di Indonesia, fenomena ini tampak dari survei KPAI (2015) yang menunjukkan sebagian besar orang tua hanya berinteraksi sebatas satu jam per hari dengan anak.
Kehadiran orang tua sering terbatas pada pengawasan gadget, bukan pendampingan emosional. Anak dinilai “aman” selama tidak mengakses konten berbahaya, sehingga tidak dianggap perlu didampingi lebih jauh.
Baca Juga: Uya Kuya Nangis Histeris Lihat Rumah Dirusak Massa, Coretan Hinaan Penuhi Dinding
Fenomena ini memperlihatkan pergeseran paradigma: anak hanya dikawal dari sisi bahaya, bukan dibimbing untuk tumbuh optimal. Dampaknya, anak kehilangan figur teladan yang seharusnya diberikan oleh ayah.
Dalam perspektif Islam, kisah para nabi menekankan pentingnya ayah dalam pendidikan anak. Nabi Ibrahim mengajarkan tauhid kepada Ismail, Nabi Nuh tetap mendoakan anaknya meski durhaka, sementara Luqman menasihati dengan kelembutan.
Tanpa kehadiran emosional ayah, anak berpotensi tumbuh dengan defisit kasih sayang, kontrol diri, dan solidaritas sosial. Dalam jangka panjang, ini bisa melemahkan karakter generasi bangsa.
Baca Juga: Pemkot Blitar Kucurkan Puluhan Miliar untuk Tangani Kasus Stunting
Fatherless bukan hanya soal ketiadaan fisik, tetapi absennya peran ayah dalam pendidikan. Indonesia perlu membangun kesadaran bahwa mendidik anak adalah kewajiban spiritual, emosional, dan sosial, bukan sekadar kewajiban ibu.
Editor : M. Subchan Abdullah