BLITAR – Cabang olahraga (cabor) paralayang di Kabupaten Blitar terancam vakum dalam waktu cukup lama. Penyebabnya, peralatan utama berupa parasut yang dimiliki atlet rata-rata sudah rusak dan tidak lagi layak pakai. Bahkan hingga kini belum mendapatkan perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar.
Ketua Paralayang Kabupaten Blitar, Bayuk Marsudi, mengungkapkan kondisi ini membuat aktivitas latihan maupun persiapan kejuaraan praktis berhenti total. Tentu tidak bisa yang dilakukan mereka, selain menunggu uluran bantuan dari Pemkab Blitar atau lainnya.
“Untuk sementara waktu tidak ada kegiatan untuk cabor paralayang, Mas. Karena kondisi peralatan kami yaitu parasut rata-rata sudah porositas. Maka dari itu, sudah tidak layak untuk digunakan,”ujarnya saat ditemui wartawan Jawa Pos Radar Blitar.
Menurut Bayuk, porositas pada parasut membuat tingkat keamanan penerbangan sangat berisiko. Kondisi itu membuat seluruh atlet tidak bisa lagi melakukan uji terbang maupun mengikuti kompetisi resmi.
Dia menegaskan, masa depan paralayang Blitar kini sangat bergantung pada dukungan pemerintah daerah maupun pihak terkait seperti dispora dan KONI. Jika dalam tahun ini atau tahun depan tidak ada upaya pengadaan parasut baru, maka cabor paralayang dipastikan akan nonaktif untuk waktu yang tidak ditentukan.
“Kalau sekiranya tahun ini ataupun tahun depan dari pihak Kabupaten Blitar enggak bisa membelikan atau mengupayakan, tentu kami off hingga waktu yang akan menjawabnya,” tegasnya.
Meski begitu, Bayuk menaruh harapan besar agar pemkab tetap memberi perhatian. Setidaknya, dibutuhkan empat unit parasut baru, agar para atlet bisa kembali berlatih dan mengikuti kejuaraan. “Kalau memang semua atlet ya minimal empat parasut,” tambahnya.
Cabor paralayang Blitar sebelumnya sempat menyumbang prestasi di beberapa ajang olahraga tingkat provinsi maupun nasional. Namun kini, potensi tersebut dikhawatirkan hilang begitu saja bila permasalahan peralatan tidak segera diatasi.
“Paralayang itu olahraga berisiko tinggi. Tanpa peralatan standar dan aman, mustahil bisa eksis. Kami berharap pemerintah segera merespons agar Kabupaten Blitar tidak kehilangan potensi di cabor ini,” pungkasnya. (jar/ynu) (*)