Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Semangat Komunitas Kresna Cendekia Lestarikan Sastra dan Budaya Jawa di Tengah Gempuran Digital

Rahma Nur Anisa • Senin, 6 Oktober 2025 | 21:00 WIB

 

LITERASI BUDAYA LOKAL: Komunitas Kresna Cendekia membentangkan jari jempol dan telunjuk sebagai simbol penggerak literasi usai mengisi materi tentang sastra dan budaya Jawa.
LITERASI BUDAYA LOKAL: Komunitas Kresna Cendekia membentangkan jari jempol dan telunjuk sebagai simbol penggerak literasi usai mengisi materi tentang sastra dan budaya Jawa.

BLITAR - Komunitas Kresna Cendekia sebagai bentuk nyata pelestarian sastra dan budaya, menjadikan Blitar sebagai mercusuar literasi yang patut dicontoh. Berbekal buku ilustrasi, lagu dolanan, dan kampanye digital, menanamkan kebanggaan identitas. Kresna Cendekia berharap dapat menjadi motor gerakan literasi budaya di Blitar dan menginspirasi daerah lain untuk membangun generasi muda yang bangga melestarikan nilai-nilai luhur bangsa.

Gemerlap digital yang semakin terang seolah meredupkan cahaya aksara Jawa di mata generasi muda. Di tengah kekhawatiran ini, muncul sekelompok anak muda dari Blitar yang menolak sastra dan budaya daerah punah.

Mereka adalah Komunitas Kresna Cendekia yang merupakan wadah literasi budaya yang didirikan belum lama ini atau tepatnya pada 21 Januari 2025. Komunitas ini bertekad menjadikan bahasa Jawa dan kekayaan budaya Blitar sebagai sesuatu yang digandrungi dari sekian banyak keseharian anak muda zaman sekarang.

Upaya mereka bahkan berhasil mengantarkan salah satu pendirinya, Ari Prasetyo, 22, meraih gelar Pemenang II Putra Duta Bahasa Jawa Timur 2025.

Ide pembentukan Kresna Cendekia berawal dari Krida Duta Bahasa yang dijalankan Ari Prasetyo saat mewakili Kabupaten Blitar dalam pemilihan Duta Bahasa Jawa Timur 2025. Krida bahasa yang diusungnya fokus pada pelestarian bahasa daerah sebagai bentuk penerapan trigatra bangun bahasa.

“Inspirasi utama datang dari relief cerita Kresnayana yang merupakan sejarah luar biasa yang terpahat di Candi Penataran,” ungkap Ari kepada Jawa Pos Radar Blitar, Minggu (5/10/2025)

Alih-alih sekadar berteori, Ari berinisiatif membentuk komunitas ini untuk mewujudkan idenya guna mencetak buku ilustrasi tentang Kresnayana dan menyosialisasikannya kepada siswa sekolah dasar di Kabupaten Blitar.

Tujuan utamanya untuk melestarikan budaya dan sastra Nusantara, terlebih Blitar agar tetap hidup, serta menumbuhkan rasa peduli anak-anak sekolah Blitar terhadap kekayaan budaya lokalnya yang luar biasa. Saat ini, mereka fokus mengangkat kebudayaan asli Blitar sendiri karena masih banyak masyarakat yang belum tahu.

Komunitas Kresna Cendekia bukanlah perkumpulan biasa. Mereka adalah enam anak muda berlatar belakang Duta Wisata Gus Jeng Kabupaten Blitar 2023/2025 yang memiliki peran strategis.

Ari Prasetyo, yang berdomisili di Kecamatan Wlingi, memegang peran sebagai penulis cerita. Sementara itu, Surya bertindak sebagai editor sekaligus ilustrator buku, Gea dan Ganang fokus pada promosi buku, dan Almas bersama Dinar bertanggung jawab sebagai divisi humas komunitas. Kolaborasi ini terbukti efektif dengan keberhasilan Ari meraih gelar Duta Bahasa Jawa Timur.

"Kami ingin menghadirkan bahasa Jawa sebagai sesuatu yang menyenangkan, relevan, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari," tuturnya, yang memilih pendekatan kreatif dan digital untuk mencapai tujuan tersebut.

Komunitas Kresna Cendekia turun gunung ke sekolah dan desa dengan berbagai kegiatan yang interaktif. Aksi nyata mereka meliputi Perpusling (Perpustakaan Keliling) yang berfokus pada mengajar anak SD membaca, menulis aksara Jawa, dan berdialog dalam bahasa Jawa; Pengenalan Cerita Rakyat yang tujuannya memperkenalkan cerita seperti Kresnayana melalui buku ilustrasi dan diskusi interaktif.

Tidak hanya itu, komunitas ini menghadirkan kegiatan yang menyenangkan berupa Nembang Dolanan Jawa yang mengenalkan bahasa melalui lagu tradisional yang ceria dan seru.

Komunitas ini juga bergerak melalui media digital berupa sosialisasi buku cerita rakyat dan tradisi Blitar yang dapat dilirik melalui media sosial Instagram @kresna.cendekia. Upaya ini dilakukan untuk menjangkau generasi muda secara daring.

Dukungan pun mengalir deras. Respons masyarakat dan guru sangat positif karena materi yang dibawakan Kresna Cendekia interaktif dan memperkaya pembelajaran di kelas. “Bahkan, Pemerintah daerah, termasuk disbudpar dan dispusip turut mendukung karena program ini sejalan dengan pelestarian budaya lokal,” ujarnya, lantas tersenyum.

Tantangan terbesar yang mereka hadapi adalah rendahnya minat generasi muda terhadap bahasa Jawa, yang lebih akrab dengan bahasa global dan media digital. Ditambah lagi, keterbatasan sumber daya finansial dan tenaga juga menjadi hambatan.

Namun, komunitas ini sigap. Mereka mengatasi tantangan tersebut dengan terus memperkuat pendekatan kreatif, menjadikan bahasa Jawa menyenangkan, serta intens berkolaborasi dengan sekolah, dispusip (dalam program Perpusling), dan pemerintah daerah.

Proyek mereka ke depan mencakup penerbitan seri buku ilustrasi tentang tradisi dan budaya khas Blitar, serta mengembangkan program pelatihan literasi budaya untuk guru dan relawan demi memastikan keberlanjutan komunitas.

Kresna Cendekia terbuka untuk bekerja sama dengan komunitas literasi, organisasi kepemudaan, dan lembaga pemerintah lainnya. Mereka menyadari bahwa pelestarian budaya adalah gerakan bersama. “Cita-cita terbesar kami adalah membangun generasi muda yang bangga menggunakan bahasa Jawa sekaligus melestarikan budaya lokal, sehingga nilai-nilai luhur bangsa akan tetap terjaga,” pungkasnya.(*/c1/sub) (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#komunitas #blitar #buku ilustrasi #sastra dan budaya #Literasi Budaya