BLITAR KAWENTAR - Tidak semua anak dari keluarga broken home berakhir gagal. Laras, seorang lulusan baru, membuktikan bahwa masa lalu penuh luka bisa menjadi pijakan untuk tumbuh lebih kuat.
Sejak kecil, Laras hidup dalam keluarga yang tidak utuh. Orang tuanya bercerai saat ia berusia tiga tahun. Ia pernah merasa malu karena berbeda dari teman-temannya yang memiliki keluarga harmonis. Meski begitu, Laras memilih bangkit dan berjuang membuktikan diri.
Kini ia lebih berani dan percaya diri. “Saya ingin mematahkan stigma tentang broken home dengan cara berprestasi dan peduli pada diri sendiri,” ujarnya.
Baca Juga: Kementerian ATR/BPN Serahkan 384 Sertipikat PTSL untuk Warga Desa Gununggede Blitar
Psikolog menyebut banyak anak broken home mengalami depresi atau krisis percaya diri. Namun dengan dukungan lingkungan dan kesadaran pribadi, mereka tetap bisa sukses.
Kisah Laras menunjukkan bahwa broken home bukan akhir, melainkan tantangan yang bisa dilampaui. Dengan tekad, stigma dapat dipatahkan.
Editor : M. Subchan Abdullah