BLITAR - Mampu membangun percakapan yang menyenangkan sering kali menjadi tantangan, baik dalam pertemuan profesional maupun situasi sehari-hari. Banyak orang merasa kesulitan untuk “nyambung” ketika berbicara dengan orang baru atau bahkan teman lama.
Padahal, keterampilan komunikasi menjadi kunci dalam hubungan sosial, dunia kerja, hingga kesempatan bisnis.Jason Stanley, seorang trainer komunikasi berlisensi BNSP yang telah membantu lebih dari 1.200 orang di Indonesia, memaparkan tiga strategi komunikasi sederhana yang bisa membuat siapa pun lebih mudah terhubung dalam percakapan.
Langkah pertama yang ditekankan Stanley adalah active listening atau mendengarkan secara aktif. Berbeda dengan sekadar mendengar, active listening menuntut seseorang untuk benar-benar hadir dalam percakapan.
Artinya, perhatian tidak terbagi pada hal lain seperti pekerjaan atau ponsel, melainkan fokus pada apa yang sedang disampaikan lawan bicara. Dengan mengubah pola pikir dari “menunggu giliran bicara” menjadi “berusaha memahami,” seseorang dapat menunjukkan ketulusan. Hal ini membuat lawan bicara merasa dihargai dan cenderung membuka diri lebih jauh.
Strategi kedua disebut probing further, yakni menggali percakapan dengan mengajukan pertanyaan lanjutan. Konsep ini banyak digunakan dalam komunikasi internasional dan terbukti efektif menjaga alur interaksi tetap hidup. Alih-alih segera membandingkan pengalaman pribadi, bertanya lebih jauh tentang cerita lawan bicara akan membuat mereka merasa diperhatikan. Secara psikologis, manusia memang lebih suka didengarkan daripada harus memahami orang lain. Inilah mengapa probing mampu menciptakan percakapan yang hangat dan panjang.
Tips terakhir adalah menemukan golden topic atau topik emas yang menjadi kesukaan lawan bicara. Stanley mencontohkan pengalamannya saat berbicara dengan seorang eksekutif senior. Meskipun dirinya lebih tertarik pada teknologi dan kecerdasan buatan, ia memilih menyesuaikan topik ke arah bisnis yang menjadi minat lawan bicara.
Golden topic bisa dikenali dari beberapa tanda: lawan bicara mulai melakukan kontak mata intens, meletakkan ponsel, lebih banyak bicara dibanding diam, hingga menunjukkan ekspresi wajah antusias. Ketika topik ini ditemukan, percakapan akan mengalir lebih lancar tanpa harus berusaha keras.
Ketiga strategi tersebut bukan hanya berguna untuk mempererat hubungan personal, tetapi juga penting dalam dunia profesional. Networking, kerja tim, hingga negosiasi bisnis sangat bergantung pada kemampuan komunikasi. Di era media sosial dan komunikasi digital, banyak orang terbiasa menyampaikan opini tetapi kurang melatih keterampilan mendengarkan. Padahal, keseimbangan antara mendengar, bertanya, dan menemukan topik yang tepat merupakan fondasi agar percakapan tidak terputus di tengah jalan.
Keterampilan komunikasi bukanlah bakat bawaan semata, melainkan kemampuan yang bisa diasah. Dengan mempraktikkan active listening, probing further, dan menemukan golden topic, setiap orang berpeluang menjadi komunikator yang disukai dalam berbagai situasi.
Editor : M. Subchan Abdullah