Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Keindahan Candi Saptoargo dan Patirtan Sumbergondo yang Masih Tersembunyi

Anggi Septiani • Jumat, 10 Oktober 2025 | 04:40 WIB
Keindahan Candi Saptoargo dan Patirtan Sumbergondo yang Masih Tersembunyi
Keindahan Candi Saptoargo dan Patirtan Sumbergondo yang Masih Tersembunyi

BLITAR – Tak banyak yang tahu, Blitar bukan hanya dikenal dengan Makam Bung Karno atau Gunung Kelud. Di balik perbukitan sejuk kawasan Gandusari, tersimpan wisata alam Blitar yang masih jarang terjamah: Candi Agung Saptoargo dan Patirtan Sumbergondo. Keindahan alamnya membuat siapa pun tak menyangka bahwa di balik gunung, ada panorama secantik ini.

Perjalanan menuju lokasi hanya sekitar delapan kilometer dari pusat Kecamatan Wlingi. Namun, medan yang naik turun di antara ladang dan perkebunan membuat petualangan terasa menantang. Sepanjang perjalanan, terlihat warga menjemur gabah di pinggir jalan dan anak-anak desa yang ramah menyapa setiap pengunjung. Wajah-wajah polos mereka menjadi pemandangan hangat di tengah kesejukan alam pedesaan Blitar.

Salah satu titik utama dalam perjalanan kali ini adalah Patirtan Sumbergondo, sumber mata air alami yang memiliki nilai spiritual bagi masyarakat sekitar. Dipandu oleh tokoh lokal bernama Mangku Bibit, tim Jejak Kelana menyusuri jalan setapak menuju lokasi yang dikelilingi suara gemericik air dan pepohonan rindang.

Patirtan ini, menurut penuturan warga, bukan sekadar tempat mandi. Airnya dipercaya mampu menyucikan diri sebelum beribadah di Pura. “Biasanya sebelum ke Pura, warga bersih-bersih dulu di sini, supaya masuk ke tempat suci dalam keadaan bersih lahir batin,” ujar salah satu warga.

Menariknya, Patirtan Sumbergondo terbuka untuk siapa pun tanpa memandang agama atau latar belakang. Nilai toleransi dan kearifan lokal begitu terasa di tempat ini. Di musim kemarau, debit air memang berkurang, namun sumber utama tetap stabil dan tidak pernah kering total. Kejernihan air serta suasana hening menjadikan lokasi ini tempat ideal untuk menenangkan diri.

Tak jauh dari Patirtan, berdiri Candi Agung Saptoargo yang berada di kawasan hutan lereng Gunung Kawi. Masyarakat sekitar menyebutnya Pura Sabargo atau Kamulyan Jati Pura Saptoargo. Lokasinya yang tersembunyi di balik pepohonan menambah kesan magis dan sakral bagi pengunjung.

Candi ini menjadi simbol keharmonisan manusia dengan alam. Di sekitar area candi, suasana terasa tenang, hanya terdengar suara angin dan kicau burung. Pengunjung bisa melihat langsung perpaduan antara spiritualitas dan keindahan alam khas wisata alam Blitar yang belum banyak dikenal wisatawan luar daerah.

Saat hujan rintik turun, kabut tipis menambah nuansa mistis di kawasan ini. “Seger banget, apalagi sambil mandi di Patirtan sambil denger suara hujan,” kata salah satu pengunjung, Angga, dalam video dokumenter Jejak Kelana.

Wilayah Desa Tulungrejo dan Sumbergondo di Kecamatan Gandusari dikenal sebagai desa agraris dengan hamparan sawah, kebun, dan ternak kambing milik warga. Salah satunya adalah Mangku Bibit, yang selain menjadi penjaga Patirtan juga peternak kambing aktif. Ia memanfaatkan limbah ternak menjadi pupuk organik — bukti bahwa warga desa mampu hidup mandiri dengan kearifan lokal yang terjaga.

Bagi wisatawan, perjalanan menuju Candi Saptoargo Blitar tak hanya tentang destinasi, tapi juga pengalaman menyelami kehidupan pedesaan yang hangat dan jujur. Di sini, waktu seolah berjalan lebih lambat, memberi ruang untuk menikmati udara segar dan ketenangan yang sulit ditemukan di perkotaan.

Salah satu momen paling berkesan dalam ekspedisi Jejak Kelana adalah ketika mereka sampai di puncak perbukitan dekat Pura Saptoargo. Dari titik ini, pengunjung dapat menyaksikan dua gunung sekaligus: Gunung Kawi di utara dan Gunung Kelud di sisi selatan. Pemandangan ini begitu langka bahkan bagi warga Blitar sendiri.

Spot ini juga cocok untuk pecinta senja. Banyak pengunjung lokal menyebutnya “mislepe sengenge” — tempat terbaik menikmati matahari terbenam sambil menyeruput kopi. Kawasan sekitar Pura Saptoargo juga potensial dijadikan lokasi camping karena masih alami dan belum banyak tersentuh pembangunan.

Candi Saptoargo dan Patirtan Sumbergondo menjadi bukti bahwa wisata alam Blitar bukan hanya tentang panorama, tetapi juga perjalanan spiritual dan kultural. Perpaduan antara alam, budaya, dan nilai toleransi menjadikannya destinasi yang unik dan sarat makna.

Bagi pencinta petualangan dan ketenangan, Jelajah Wlingi ini wajib masuk daftar eksplorasi berikutnya. Karena seperti kata tim Jejak Kelana: uang bisa dicari, tapi waktu untuk berkelana belum tentu terganti.

Editor : Anggi Septian A.P.
#Candi Saptoargo #Patirtan Sumbergondo #wisata alam blitar #Gunung Kawi Blitar