BLITAR - Menjalani kuliah sambil berbisnis, mungkin bukan hal yang mudah. Namun, itulah yang dilakoni Ike Lailatul Qodariyah Novianti, mahasiswi asal Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro.
Bahkan, dia berhasil membangun bisnis buket snack dengan omzet hingga jutaan rupiah dari modal awal Rp 10 ribu.
Selembar kertas kado cokelat dan segenggam snack murah meriah menjadi titik balik perjalanan bisnis Ike Lailatul Qodariyah Novianti. Mahasiswi berusia 20 tahun ini membuktikan bahwa kreativitas dan ketekunan mampu mengubah keterbatasan menjadi peluang emas.
Kisahnya bermula pada 2022 sila, saat masih duduk di bangku kelas 11 MA di sebuah pondok pesantren. Ketika itu, dia dipercaya sebagai koordinator seksi konsumsi dalam sebuah acara.
Nah, dia saat itu diminta menyiapkan doorprize dengan anggaran hanya Rp 10 ribu. Alih-alih menyerah, pemudi kelahiran 2004 ini justru menemukan solusi kreatif.
"Saya terpikir untuk membuat sesuatu yang berbeda. Akhirnya mencoba membuat buket snack dengan kertas kado cokelat sederhana," kenang Ike.
Hasil karya tangan pertamanya menuai pujian. Respons positif tersebut memantik semangat Ike untuk mengembangkan usaha buket di lingkungan pondok.
Musim wisuda kakak tingkat menjadi momentum pertamanya meraih pasar, terutama dari kalangan santri putri. Penjualan mengalir hingga ia lulus dari bangku SMA.
"Saya awal kuliah sempat berhenti. Tapi saya kembali berjualan secara online. Awalnya belum stabil karena buket bukan produk cepat laku seperti makanan," ungkap mahasiswi yang aktif di berbagai kegiatan kampus ini.
Keaktifan Ike di organisasi kampus justru menjadi strategi pemasaran yang efektif. Lingkaran pertemanan yang luas juga membuka peluang promosi lebih luas.
Dari mulut ke mulut, bisnisnya yang dipromosikan melalui Instagram Miracle ID mulai dikenal. Pelanggan mengapresiasi kombinasi harga terjangkau dengan kualitas menarik.
Terobosan besar terjadi saat liburan semester dua. Ike menitipkan promosi di koperasi pondok lama menjelang wisuda santri.
Pesanan membeludak menembus angka seratus buket lebih. Dia mengerjakan seluruh pesanan bersama ibu dan tante yang selalu mendukung. Keuntungan dari penjualan tersebut mengantarkan Ike pada pencapaian pertama, mandiri secara finansial.
"Semua masih dikerjakan berdua dengan ibu. Kami bekerja siang malam menjelang masa wisuda," tutur Ike.
Rahasia di balik kesuksesan bisnisnya terletak pada prinsip sederhana, pengeluaran minimal, hasil maksimal. Ike selektif memilih bahan baku yang terjangkau namun tetap berkualitas.
Strategi ini memungkinkannya menawarkan harga kompetitif tanpa mengorbankan estetika produk.
Tantangan terbesar bisnis buket adalah sifatnya yang musiman. Penjualan melonjak drastis saat musim wisuda, tetapi sepi di waktu lain. Ike menyiasatinya dengan terus berinovasi dan menjaga konsistensi promosi di media sosial.
Hingga 2025, Ike masih mengelola bisnisnya sambil membiayai sendiri biaya pendidikan dari hasil penjualan. Pencapaian ini membuktikan bahwa usia muda bukan penghalang untuk mandiri secara ekonomi.
Menatap masa depan, pebisnis muda ini tidak berhenti pada buket. Dia berambisi mengembangkan produk ke arah hamper, kado custom, dan seserahan untuk memperluas segmen pasar.
Branding produk menjadi fokus utama melalui peningkatan kualitas, pembelajaran desain baru, dan optimalisasi media sosial. (*/c1/ady) (*)