BLITAR KAWENTAR - Media sosial kini menjadi ruang ekspresi sekaligus ledakan emosi. Tak jarang, unggahan sederhana menuai komentar pedas tanpa alasan jelas. Apa yang membuat orang mudah marah di dunia maya?
Psikolog dalam diskusi podcast menjelaskan bahwa perilaku kasar di dunia maya bukan sekadar persoalan etika digital. “Banyak orang yang menumpahkan amarah karena mereka sedang tidak baik-baik saja,” ungkapnya. Orang yang bahagia cenderung tidak punya energi untuk menyerang atau menghina.
Komentar negatif, katanya, bisa muncul karena rasa iri, pengalaman buruk masa lalu, atau isu pribadi yang tersentuh oleh konten tertentu. Misalnya, postingan tentang hubungan bisa memicu kemarahan bagi seseorang yang pernah diselingkuhi.
Fenomena ini juga terkait dengan tekanan sosial akibat budaya perbandingan di media sosial. Melihat orang lain tampak sukses dan bahagia bisa memicu rasa rendah diri dan frustrasi. “Kita cuma lihat hasilnya, tidak tahu perjuangan mereka,” tambahnya.
Untuk pengguna media sosial, langkah terbaik adalah menjaga kesadaran. Tidak semua komentar perlu dibalas, dan tidak semua opini harus diterima. Pengelolaan emosi dan batas digital menjadi kunci agar mental tetap sehat.
Media sosial bisa menjadi ruang sehat bila penggunanya sadar bahwa setiap orang punya luka dan perjalanan berbeda. Bijak berkomentar adalah bentuk empati dan kedewasaan digital.
Editor : M. Subchan Abdullah