Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Ego, Trauma, dan Amarah: Mengapa Kita Mudah Tersulut?

Annisa Nur Azzizah • Senin, 13 Oktober 2025 | 06:00 WIB

Ego dan trauma masa lalu sering menjadi pemicu tersembunyi di balik kemarahan. Pahami akar emosi agar hidup lebih tenang dan terkendali.
Ego dan trauma masa lalu sering menjadi pemicu tersembunyi di balik kemarahan. Pahami akar emosi agar hidup lebih tenang dan terkendali.

BLITAR KAWENTAR - Kemarahan sering kali bukan disebabkan oleh situasi di luar, melainkan luka yang belum sembuh di dalam diri. Profesor David J. Lieberman dalam The Psychology of Emotions mengupas bagaimana ego dan trauma masa lalu memengaruhi kontrol emosi seseorang.

Lieberman menulis bahwa ego berperan besar dalam memicu kemarahan. Ego adalah suara batin yang mengatakan, “Aku harus selalu benar.” Saat seseorang merasa dipermalukan atau diremehkan, ego akan memicu amarah untuk melindungi harga diri.

Namun, menurutnya, ego yang rapuh sering berasal dari pengalaman masa kecil yang penuh kritik, penolakan, atau kurang kasih sayang. Anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti itu belajar mengaitkan cinta dengan ketaatan dan penghargaan eksternal. Akibatnya, ketika dewasa, mereka mudah tersulut karena merasa tidak diterima.

Lieberman mengajak pembaca untuk acceptance menerima kenyataan masa lalu tanpa menyalahkan diri atau orang lain. “Menerima bukan berarti pasrah, tapi sadar bahwa aku ingin berubah,” tulisnya.

Ia juga menegaskan bahwa cara seseorang memperlakukan kita mencerminkan nilai dirinya, bukan nilai kita. Dengan menyadari hal ini, seseorang bisa memutus siklus dendam dan marah yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam praktiknya, Lieberman menyarankan agar individu melatih empati terhadap “orang sulit”. Mereka yang sering menyakiti biasanya juga sedang menderita dan merasa sendirian. Prinsip “hurt people hurt people” menjadi fondasi untuk memahami, bukan membalas.

Amarah sering kali hanyalah topeng bagi rasa takut dan luka lama. Dengan menyadari akar psikologisnya, seseorang bisa berdamai dengan masa lalu dan menemukan kedamaian batin. Pengendalian emosi sejatinya bukan menekan marah, tetapi memahami asalnya.

Editor : M. Subchan Abdullah
#mental health