Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dokter Jiwa Ungkap Tragedi Pengobatan Skizofrenia yang Terlambat Karena Pergi ke Dukun Lebih Dulu

Rahma Nur Anisa • Senin, 13 Oktober 2025 | 14:00 WIB

Kepercayaan yang keliru bisa menghilangkan potensi besar seseorang untuk sembuh dan hidup normal.
Kepercayaan yang keliru bisa menghilangkan potensi besar seseorang untuk sembuh dan hidup normal.

BLITAR KAWENTAR - Seorang pasien skizofrenia kehilangan kesempatan sembuh total karena keluarganya memilih pengobatan alternatif selama tiga tahun. Kisah ini diungkap dokter spesialis kejiwaan sebagai peringatan bagi masyarakat Indonesia.

Dokter Jiemi Ardian, spesialis kedokteran jiwa, membagikan pengalaman menyedihkan dalam menangani pasien skizofrenia yang terlambat mendapat penanganan medis. Pasien tersebut, seorang anak muda yang cemerlang, mengalami gejala yang dianggap keluarganya sebagai kesurupan jin.

Selama tiga tahun, keluarga pasien menghabiskan seluruh harta untuk pengobatan alternatif. Mereka menjual sawah dan ternak hingga jatuh miskin, berharap sang anak bisa kembali normal. Ketika akhirnya dibawa ke psikiater, diagnosis menunjukkan skizofrenia, namun sudah terlambat untuk pemulihan optimal.

Baca Juga: Gasak Uang Kotak Amal Musala Rp 15 Ribu, Pemuda Warga Sutojayan Blitar Nyaris Diamuk Massa

"Yang membuat saya marah, skizofrenia sebenarnya sangat bisa ditangani dan seseorang berpotensi kembali normal dengan satu syarat, ditemukan di awal dan mendapat penanganan di awal," ujar dokter Jiemi Ardian dalam kanal edukasinya di Kelas Pakar.

Ia menjelaskan bahwa penanganan skizofrenia yang tertunda akan menghasilkan hasil yang jauh lebih buruk. Pasien yang seharusnya bisa kembali bekerja, bersosialisasi, dan menjalani kehidupan normal, kini hanya bisa diam di rumah mengonsumsi obat untuk mengendalikan emosinya.

Kasus ini bukan sekadar kehilangan uang, tetapi hilangnya harapan untuk hidup normal selamanya. Indonesia menduduki peringkat kedua dalam Tahun Hidup Disesuaikan Disabilitas untuk kasus skizofrenia, artinya banyak penderita yang seharusnya tidak perlu hidup dengan disabilitas, namun menjadi disabel karena penanganan yang terlambat.

Baca Juga: Serapan Anggaran Belanja Pemkab Blitar Masih 56 Persen, BPKAD Ungkap Kendalanya

Beberapa faktor menyebabkan keterlambatan ini. Pertama, keterbatasan jumlah psikiater di Indonesia yang baru mencapai ribuan orang untuk melayani 270 juta penduduk. Kedua, dan yang paling krusial, adalah kepercayaan masyarakat yang masih mendahulukan pengobatan mistis ketimbang penanganan medis.

Dampak keterlambatan penanganan bisa lebih berbahaya dari yang dibayangkan. Penderita skizofrenia yang tidak tertangani bisa menjadi korban kekerasan masyarakat atau, meski jarang, melakukan tindak kekerasan karena trauma dan gangguan otaknya.

Indonesia juga mengalami darurat pemasungan, di mana banyak penderita gangguan jiwa dipasung karena dianggap berbahaya, padahal mereka sebenarnya bisa diselamatkan jika tidak terlambat.

Baca Juga: Kangen Joget ANTV Sambangi Blitar, Ini 5 Wisata Hits yang Wajib Dikunjungi Antv Lovers

Dokter Jiemi Ardian menekankan pentingnya masyarakat mempertanyakan kepercayaan-kepercayaan yang dianut, termasuk anggapan bahwa mencari bantuan psikiater adalah hal tabu, atau bahwa obat-obatan kejiwaan menyebabkan kecanduan dan gagal ginjal.

"Jangan anggap sederhana apa yang kita percaya," tegasnya. "Kepercayaan yang keliru bisa menghilangkan potensi besar seseorang untuk sembuh dan hidup normal."

Pemerintah telah bergerak meningkatkan jumlah psikiater untuk melayani masyarakat lebih luas. Namun, perubahan pola pikir masyarakat dalam memandang kesehatan jiwa tetap menjadi kunci utama agar tragedi serupa tidak terulang. (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#disabilitas #skizofrenia #Jiemi Ardian #pasung #Disabel