Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dari Keluarga Berada Jadi Miskin: Kisah Nyata Keluarga yang Bangkrut Demi Mengobati Anak ke Dukun

Rahma Nur Anisa • Senin, 13 Oktober 2025 | 16:00 WIB

Skizofrenia adalah gangguan kesehatan jiwa yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk berpikir jernih.
Skizofrenia adalah gangguan kesehatan jiwa yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk berpikir jernih.

BLITAR KAWENTAR - Sebuah keluarga menjual seluruh harta termasuk sawah dan ternak untuk mengobati anaknya yang dianggap kesurupan. Tiga tahun kemudian, mereka jatuh miskin dan mengetahui sang anak sebenarnya menderita skizofrenia.

Cinta orang tua tidak mengenal batas. Sebuah keluarga rela mengorbankan segalanya, sawah, ternak, dan seluruh harta benda, demi kesembuhan anak mereka yang cemerlang. Namun, pilihan pengobatan yang keliru justru membuat mereka kehilangan dua hal sekaligus, harta dan kesempatan sang anak untuk sembuh total.

Kisah tragis ini diungkapkan oleh Dokter Jiemi Ardian, spesialis kedokteran jiwa, yang menangani langsung kasus tersebut. Pasiennya, seorang anak muda yang brilian, tiba-tiba mengalami perubahan perilaku yang keluarganya anggap sebagai kesurupan jin.

Baca Juga: Kuliner di Tengah Ladang Jagung, Sensasi Makan ala Pedesaan di Blitar

"Karena kesurupan, dia dibawa ke orang pintar. Satu tahun pengobatan, dua tahun, tiga tahun, uangnya mulai habis," cerita dokter Jiemyardian dalam program edukasinya.

Selama tiga tahun, keluarga tersebut mendatangi berbagai pengobatan alternatif, berharap sang anak bisa kembali normal dan tidak lagi "dirasuki jin". Mereka menjual sawah yang menjadi sumber penghasilan utama, melepas ternak satu per satu, hingga status ekonomi mereka berubah drastis dari keluarga berada menjadi miskin.

Ketika uang habis dan tidak ada kemajuan, keluarga tersebut akhirnya membawa sang anak ke psikiater. Setelah pemeriksaan menyeluruh, diagnosis yang keluar adalah skizofrenia, bukan kesurupan atau gangguan makhluk halus seperti yang mereka yakini selama ini.

Baca Juga: Masih Ada Siswa Keluhkan MBG, DPRD Kota Blitar Minta Rutin Evaluasi

Yang lebih menyedihkan, lima tahun setelah diagnosis, pasien tersebut datang lagi ke rumah sakit tempat dokter Jiemi Ardian praktik. Kali ini mereka menggunakan layanan BPJS, menandakan bahwa keluarga tersebut sudah tidak mampu membayar pengobatan secara mandiri.

"Pengobatan dilanjutkan dan anak ini bisa sedikit lebih baik. Tapi yang membuat saya marah, skizofrenia sebenarnya sangat bisa ditangani jika ditemukan di awal," ujar dokter Jiemi Ardian dengan nada kecewa.

Skizofrenia adalah gangguan kesehatan jiwa yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk berpikir jernih, mengelola emosi, dan berinteraksi dengan orang lain. Dengan penanganan dini dan tepat, penderita skizofrenia dapat pulih secara signifikan dan menjalani kehidupan yang produktif.

Baca Juga: CJH Kabupaten Blitar 2026 Mulai Jalani Rekam Bio Visa

Namun, semakin lama penanganan tertunda, semakin kecil peluang untuk pemulihan optimal. Pasien dalam kasus ini seharusnya bisa kembali bekerja, bersosialisasi, dan menjalani kehidupan normal. Sekarang, ia hanya bisa diam di rumah mengonsumsi obat untuk mengendalikan gejala-gejalanya.

"Anak ini seharusnya bisa kembali bekerja, bisa bermain, bisa bersosialisasi. Tidak harus diam di rumah minum obat hanya untuk tidak marah," kata dokter Jiemi Ardian.

Kasus ini menggambarkan masalah sistemik yang lebih luas di Indonesia. Banyak masyarakat masih mempercayai pengobatan alternatif atau mistis sebagai pilihan pertama untuk masalah kesehatan jiwa. Stigma terhadap psikiater dan pengobatan medis masih sangat kuat, membuat banyak penderita terlambat mendapat penanganan yang tepat.

Baca Juga: Menanti Kepastian: Drama Kepres Pemindahan Ibu Kota yang Tak Kunjung Terbit

Selain kerugian finansial, dampak terbesar adalah hilangnya harapan untuk hidup normal. Seorang anak muda yang seharusnya bisa berkontribusi kepada keluarga dan masyarakat, kini harus bergantung pada obat-obatan seumur hidup dengan fungsi yang terbatas.

Dokter Jiemi Ardian tidak memiliki masalah personal dengan praktisi pengobatan alternatif, namun pengalamannya melihat pasien-pasien yang kehilangan kesempatan sembuh karena pengobatan yang keliru sangat menyakitkan. "Ini bukan hanya tentang kehilangan uang semata, ini tentang harapan yang hilang," tegasnya. (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#skizofrenia #gangguan jiwa #Jiemi Ardian #stigma #penyakit mental #dukun