Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Psikiater Ajak Masyarakat Pertanyakan Kepercayaan Berbahaya: Dari Obat Jiwa Bikin Kecanduan Hingga Dukun Bisa Sembuhkan Gangguan Mental

Rahma Nur Anisa • Senin, 13 Oktober 2025 | 20:00 WIB

Dokter Jiemi menggarisbawahi kepercayaan bisa menjadi berbahaya ketika menghalangi penanganan medis
Dokter Jiemi menggarisbawahi kepercayaan bisa menjadi berbahaya ketika menghalangi penanganan medis

BLITAR KAWENTAR - Banyak kepercayaan keliru di masyarakat tentang kesehatan jiwa yang tampak tidak berbahaya, namun bisa berakibat fatal. Psikiater mengajak masyarakat untuk mempertanyakan dan mengevaluasi kembali kepercayaan-kepercayaan tersebut.

Kepercayaan adalah hal yang sangat personal dan seringkali mengakar kuat dalam budaya masyarakat. Namun, bagaimana jika kepercayaan tersebut justru membahayakan kesehatan dan kehidupan seseorang? Dokter Jiemi Ardian, spesialis kedokteran jiwa, mengajak masyarakat untuk lebih kritis terhadap kepercayaan-kepercayaan yang mereka pegang, terutama terkait kesehatan jiwa.

"Jangan anggap sederhana apa yang kita percaya," ujar dokter Jiemi Ardian. "Kepercayaan yang tampak lucu-lucuan atau tidak berbahaya bisa menjadi sangat berbahaya ketika dipegang oleh orang yang bermasalah atau jatuh ke konteks yang keliru."

Baca Juga: Air Terjun Tirto Galuh Blitar, Surga Tersembunyi di Jawa Timur dengan Pesona Alam yang Masih Asri

Salah satu kepercayaan keliru yang paling umum adalah anggapan bahwa mencari bantuan psikiater atau minum obat-obatan kejiwaan adalah hal yang tabu. Banyak masyarakat Indonesia masih menganggap bahwa masalah kejiwaan adalah aib yang harus disembunyikan, bukan masalah medis yang perlu ditangani.

Kepercayaan lain yang juga sangat berbahaya adalah mitos seputar obat-obatan kejiwaan. Banyak yang percaya bahwa obat untuk skizofrenia, depresi, atau gangguan bipolar menyebabkan kecanduan, tidak boleh diminum seumur hidup, atau bisa menyebabkan gagal ginjal.

"Bagaimana kalau minum obat untuk skizofrenia, untuk depresi, bipolar pun perlu kita pertanyakan. Apa kepercayaanmu di sana? Apakah itu bikin kecanduan? Apakah tidak boleh minum obat seumur hidup? Apakah minum obat itu bikin gagal ginjal?" tanya dokter Jiemi Ardian.

Baca Juga: Diduga Ngantuk, Pemuda Blitar Tewas Usai Tabrak Tiang Listrik, Begini Kronologinya

Mitos-mitos ini membuat banyak penderita gangguan jiwa dan keluarga mereka enggan mencari pengobatan medis atau menghentikan pengobatan secara sepihak. Padahal, obat-obatan psikiatri yang diresepkan dengan tepat oleh dokter spesialis adalah bagian penting dari proses pemulihan dan tidak menyebabkan kecanduan seperti yang banyak orang takutkan.

Kepercayaan lain yang masih sangat kuat adalah anggapan bahwa gangguan jiwa disebabkan oleh faktor mistis seperti kesurupan, gangguan makhluk halus, atau kutukan. Kepercayaan ini mendorong banyak keluarga untuk mencari pengobatan alternatif atau mendatangi dukun sebelum pergi ke fasilitas kesehatan.

Dokter Jiemi Ardian tidak mempermasalahkan kepercayaan terhadap hal mistis sebagai bagian dari budaya. Namun, ia menggarisbawahi bahwa kepercayaan ini menjadi berbahaya ketika menghalangi atau menunda penanganan medis yang seharusnya didahulukan.

Baca Juga: Waspada, Dinkes Kabupaten Blitar Ungkap Banyak SPPG Belum Sesuai Standar Sanitasi

"Saya tidak punya masalah personal dengan para dukun," jelasnya. "Tapi pengalaman saya melihat orang-orang yang tidak bisa kembali normal hanya karena pergi ke dukun duluan itu menyakitkan."

Dalam praktiknya, dokter Jiemi Ardian telah melihat banyak pasien yang kehilangan kesempatan untuk pulih sepenuhnya karena keluarga mereka terlambat membawa mereka ke psikiater. Waktu yang terbuang untuk pengobatan alternatif bisa berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, waktu yang sangat krusial untuk penanganan gangguan jiwa.

Untuk gangguan seperti skizofrenia, penanganan dini adalah kunci utama pemulihan. Semakin cepat seseorang mendapat diagnosis dan pengobatan yang tepat, semakin besar peluang mereka untuk kembali menjalani kehidupan normal seperti bekerja, bersosialisasi, dan menjadi produktif.

Baca Juga: Kuliner di Tengah Ladang Jagung, Sensasi Makan ala Pedesaan di Blitar

Dokter Jiemyardian mengajak masyarakat untuk lebih kritis dan terbuka terhadap informasi kesehatan jiwa. "Pertimbangkan baik-baik. Bagaimana jika kepercayaan itu juga mengganggu seseorang untuk pulih?" tegasnya.

Ia juga mendorong masyarakat untuk mencari informasi yang benar tentang kesehatan jiwa dari sumber-sumber yang kredibel, bukan dari mitos atau cerita yang beredar di media sosial tanpa dasar ilmiah yang jelas.

Dengan meningkatnya akses informasi melalui internet dan media sosial, masyarakat seharusnya bisa lebih mudah mendapat edukasi tentang kesehatan jiwa. Namun, di sisi lain, media sosial juga menjadi tempat penyebaran mitos dan informasi keliru yang bisa membahayakan.

Baca Juga: Masih Ada Siswa Keluhkan MBG, DPRD Kota Blitar Minta Rutin Evaluasi

Perubahan pola pikir memang tidak mudah, terutama ketika kepercayaan tersebut sudah mengakar dalam budaya selama puluhan atau bahkan ratusan tahun. Namun, untuk menyelamatkan nyawa dan masa depan banyak orang, perubahan ini sangat diperlukan. (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#skizofrenia #Jiemi Ardian #kurang edukasi #kesehatan jiwa #gangguan mental #dukun #psikiater