Waspada Brain Rot: Kebanyakan Scrolling Media Sosial Bisa Bikin Otak Busuk dan Produktivitas Menurun
Rahma Nur Anisa• Senin, 13 Oktober 2025 | 22:00 WIB
media sosial dengan algoritma yang dirancang menggunakan prinsip psikologi membuat pengguna terus menggulir konten pendek.
BLITAR KAWENTAR - Fenomena kecanduan media sosial kini telah berkembang menjadi ancaman serius bagi kesehatan mental dan intelektual generasi digital. Para ahli psikologi dan neurosains memperingatkan bahwa kebiasaan menggulir konten pendek tanpa henti di platform seperti TikTok, Instagram, dan Twitter dapat menyebabkan kondisi yang disebut "brain rot" atau pembusukan otak.
Kamus Oxford pada tahun 2024 memasukkan istilah "brain rot" sebagai kata terpopuler tahun ini setelah mengalami peningkatan penggunaan sebesar 230 persen. Oxford mendefinisikan brain rot sebagai penurunan kemampuan mental dan intelektual seseorang akibat terlalu banyak mengonsumsi konten dangkal yang tidak menantang.
Fenomena ini pertama kali dikemukakan oleh David Soren jauh sebelum era telepon pintar, namun ramalannya terbukti akurat di era digital saat ini. Kondisi ini hampir menyerupai gangguan obsesif-kompulsif (OCD), di mana seseorang merasakan dorongan tak terkendali untuk terus menggulir layar tanpa tujuan yang jelas.
Para ahli mengidentifikasi beberapa ciri seseorang yang mengalami brain rot. Pertama, kemalasan bergerak dan kecenderungan untuk terus berbaring sambil bermain ponsel. Kedua, kesulitan berkonsentrasi pada tugas-tugas rumit atau pelajaran yang membutuhkan pemikiran mendalam.
Gejala lain yang mengkhawatirkan adalah menurunnya pemahaman terhadap pengetahuan dasar. Fenomena anak-anak sekolah menengah yang tidak memahami matematika sederhana atau pengetahuan umum semakin sering terjadi. Perasaan tidak bergairah, tidak produktif, sering cemas, namun bingung harus berbuat apa juga menjadi tanda-tanda brain rot.
Dr. Gloria Mark, psikolog Amerika yang meneliti rentang perhatian (attention span), menemukan bahwa kemampuan orang untuk fokus pada satu informasi semakin menurun drastis. Media sosial yang memperpendek durasi tayangan dan menyediakan guliran tanpa batas menjadi penyebab utama.
Otak manusia tersusun dari hampir 100 miliar sel saraf dengan potensi koneksi mencapai 1.000 triliun sambungan, jumlah yang ratusan kali lebih banyak dari bintang di galaksi Bima Sakti. Namun, otak memiliki sifat plastis yang dapat berubah ke arah lebih baik atau lebih buruk tergantung aktivitas dan lingkungan.
Penelitian pada tahun 1990-an oleh Mark Rosenzweig dan Edward Bennett terhadap tikus membuktikan hal ini. Tikus yang ditempatkan di lingkungan dengan berbagai rangsangan dan mainan memiliki korteks otak yang lebih tebal dibandingkan tikus yang hanya diberi makan dan minum. Ini menunjukkan bahwa otak berkembang melalui stimulasi dan tantangan.
Masalahnya, media sosial dengan algoritma yang dirancang menggunakan prinsip psikologi membuat pengguna terus menggulir konten pendek. Hal ini memicu pelepasan dopamin hormon kesenangan, secara instan tanpa usaha. Akibatnya, otak mengurangi reseptor dopamin, membuat pengguna kehilangan kepuasan namun tetap terus mencari konten baru dalam kondisi yang disebut "zombie scrolling."
Data statistik menunjukkan Indonesia berada di urutan kesembilan negara dengan penggunaan media sosial terlama, menghabiskan lebih dari tiga jam per hari. Jika ditotal dengan seluruh aktivitas internet, masyarakat Indonesia menghabiskan lebih dari tujuh jam sehari menatap layar, hampir sama dengan durasi tidur, bahkan lebih lama karena banyak yang begadang.
Otak memiliki keterbatasan yang disebut beban kognitif (cognitive load). Ketika informasi yang masuk terlalu banyak dan tidak terorganisir, terjadi kelebihan beban (cognitive overload) yang menyebabkan kebingungan, kesalahan logika, kelelahan mental, hingga mempercepat pikun.
Para ahli tidak mengajak untuk memboikot media sosial sepenuhnya, namun menghimbau agar bijak dalam memilih jenis konten dan membatasi durasi penggunaan. Sebuah tantangan diajukan, hapus aplikasi media sosial selama satu bulan (kecuali bagi pembuat konten), kemudian ganti dengan membaca buku fisik hingga selesai.
Otak manusia sebenarnya tidak dirancang untuk mengonsumsi hal-hal dangkal secara instan, melainkan untuk memproses informasi secara mendalam melalui usaha dan pemikiran. Dengan melatih otak melalui aktivitas menantang, koneksi sel saraf akan terbentuk lebih kuat, membuat seseorang menjadi lebih cerdas dan produktif. (*)