BLITAR — Kota Blitar tak hanya dikenal sebagai tempat peristirahatan terakhir Sang Proklamator Ir. Soekarno, tetapi juga surga bagi para pencinta kuliner tradisional. Tak heran, kota berjuluk Kota Patria ini selalu menjadi magnet bagi wisatawan yang ingin menelusuri jejak sejarah sekaligus berburu cita rasa khas tempo dulu.
Dalam perjalanan kuliner kali ini, seorang food vlogger mengajak para penonton untuk berziarah ke Makam Bung Karno sekaligus menikmati kuliner legendaris yang sudah ada sejak zaman Jepang.
Dari Jakarta, perjalanan dimulai dengan pesawat menuju Malang, dilanjutkan dengan perjalanan darat sejauh 80 kilometer menuju Blitar yang ditempuh sekitar dua jam.
Soto Bo Ireng, Kuliner Sejak Zaman Jepang
Tujuan pertama adalah Soto Bo Ireng, kuliner legendaris yang konon sudah berjualan sejak era penjajahan Jepang. Berlokasi di Jalan Kelut, Kepanjen, Kota Blitar, warung sederhana ini mulai buka pukul 07.00 pagi dan hanya bertahan hingga stok soto habis.
Soto ini dikelola oleh Bu Kayatin, penerus generasi kedua setelah ibunya, Bu Sarbati, sang perintis sejak tahun 1940-an. Dengan harga Rp10.000 per porsi, pelanggan bisa menikmati semangkuk soto dengan cita rasa khas Madura—gurih, manis, dan penuh rempah.
“Rahasianya ada di bumbu empon-empon. Semua digiling manual, bukan diblender seperti sekarang,” ujar Bu Kayatin saat ditemui di warungnya. Ia tetap mempertahankan cara tradisional agar cita rasa soto tetap otentik.
Kuah Gurih Manis, Porsi Pas untuk Sarapan
Satu porsi soto disajikan dalam mangkuk kecil ala soto kudus. Isinya terdiri dari nasi, tauge, kucai, potongan daging, dan jeroan sapi. Kuahnya berwarna gelap karena campuran kecap manis khas Madura yang membuat rasanya gurih dan sedikit manis. Tambahan sambal dan jeruk nipis membuat rasa semakin segar.
“Kuahnya ringan, tidak terlalu kental meski pakai santan. Cocok untuk sarapan,” ujar sang vlogger setelah mencicipinya.
Harga Rp10.000 per porsi dianggap sangat terjangkau untuk kuliner legendaris yang sudah melewati tiga generasi ini. Tak heran, Soto Bo Ireng selalu ramai pembeli, terutama di pagi hari.
Ziarah ke Makam Bung Karno, Wisata Religi Paling Dikenal di Blitar
Setelah kenyang menikmati soto, perjalanan berlanjut ke Makam Bung Karno yang berlokasi di Jalan Ir. Soekarno No. 152, Bendogerit, Sananwetan, Kota Blitar. Kompleks makam ini bukan sekadar tempat berziarah, tapi juga destinasi wisata sejarah dan religi yang dilengkapi dengan Museum dan Perpustakaan Bung Karno.
Pengunjung yang datang tak hanya dari Blitar, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia. Baik di akhir pekan maupun hari biasa, kawasan ini selalu ramai dipadati peziarah dan wisatawan.
Selain berdoa, banyak pengunjung yang memanfaatkan momen tersebut untuk mengenang perjuangan Sang Proklamator. “Kita datang ke sini bukan hanya berziarah, tapi juga belajar tentang sejarah bangsa,” ujar salah satu wisatawan.
Es Dopp, Sensasi Manis yang Mulai Langka
Tak jauh dari kawasan makam, sang vlogger kembali menemukan kuliner nostalgia lain, yakni Es Dopp—es lilin khas Blitar yang kini semakin sulit ditemukan. Beruntung, masih ada satu pedagang tua yang menjualnya.
Es dopp hadir dalam berbagai rasa seperti kacang hijau, melon, durian, stroberi, hingga cokelat. Bentuknya sederhana, dibungkus plastik kecil dengan cita rasa manis yang menyegarkan.
“Segar banget diminum pas siang bolong setelah ziarah. Ini nostalgia masa kecil,” ungkapnya sambil menikmati es rasa melon.
Blitar, Kota yang Menyatukan Sejarah dan Kuliner
Blitar memang punya daya tarik unik—menggabungkan nilai sejarah, religi, dan kuliner dalam satu perjalanan yang mengesankan. Dari Soto Bo Ireng legendaris, ziarah ke Makam Bung Karno, hingga manisnya Es Dopp khas Blitar, semua menghadirkan pengalaman yang tak terlupakan.
Bagi para pencinta kuliner dan sejarah, Blitar menawarkan lebih dari sekadar wisata. Kota ini adalah pengingat bahwa rasa dan kenangan bisa bersatu dalam satu suapan soto dan satu langkah di tanah kelahiran Bung Karno.
Editor : Anggi Septian A.P.