Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Warung Blendi Tewel Martumi Blitar: Masak 60 Kg Cabai Sekali Olah, Pedasnya Legendaris Sejak 1960

Dimas Galih Nur Hendra Saputra • Senin, 13 Oktober 2025 | 21:40 WIB

 

Warung Blendi Tewel Martumi Blitar: Masak 60 Kg Cabai Sekali Olah, Pedasnya Legendaris Sejak 1960
Warung Blendi Tewel Martumi Blitar: Masak 60 Kg Cabai Sekali Olah, Pedasnya Legendaris Sejak 1960

BLITAR — Bagi pecinta kuliner pedas, nama Warung Blendi Tewel Martumi Blitar bukan hal asing lagi. Warung legendaris yang berada di Desa Ngoran, Kecamatan Lekok, Kabupaten Blitar ini dikenal dengan cita rasa masakan pedas manis yang khas dan aroma tradisional yang menggugah selera.

Setiap hari, pemilik warung memasak hingga 60 kilogram cabai dan 60 kilogram nangka muda (tewel) untuk sekali olahan. Jumlah yang fantastis ini bukan untuk pamer, melainkan karena permintaan pelanggan yang terus mengalir sejak warung berdiri pada tahun 1960.

“Setiap hari kita masak 60 kilo tewel dan 60 kilo cabai. Semuanya dimasak di tungku kayu, biar rasa pedasnya tetap khas,” ujar Martumi, sang pemilik, seperti yang terekam dalam video laporan Robi Ridwan.

Pedasnya Tewel Blendi Martumi Sudah Melegenda

Nama “blendi tewel” berasal dari cara pengolahannya yang khas. “Blendi” berarti olahan berkuah kental dengan santan, sedangkan “tewel” berarti nangka muda. Perpaduan keduanya menghasilkan rasa pedas gurih yang kuat, namun tetap ada manisnya. Itulah yang membuat pelanggan dari berbagai daerah rela datang jauh-jauh ke Blitar.

Tak hanya warga lokal, pelanggan datang dari Surabaya, Malang, hingga Jakarta. Banyak yang mengaku ketagihan karena aroma masakan yang dimasak dengan kayu bakar memberikan sensasi “kampung” yang autentik.

“Saya tiap mudik pasti mampir ke sini. Masakannya pedas, tapi ada manisnya juga. Ayamnya lembut, tewelnya meresap bumbunya,” ujar seorang pembeli asal Malang.

Masih Pertahankan Cara Masak Tradisional

Salah satu daya tarik Warung Martumi adalah cara memasaknya yang tetap tradisional. Semua bahan dimasak menggunakan tungku kayu, bukan kompor gas. Metode ini membuat aroma santan dan cabai menyatu lebih sempurna, memberikan rasa pedas yang tajam tapi tidak menyengat.

Martumi menjelaskan, resepnya diturunkan dari orang tuanya sejak puluhan tahun lalu. “Dari dulu masaknya pakai kayu. Kalau diganti gas, rasanya beda. Jadi tetap kita jaga seperti dulu,” katanya.

Selain blendi tewel, Warung Martumi juga menyediakan beragam lauk pedas lainnya seperti ikan nila, lele, gabus, dan ayam lodong. Semua disajikan dengan bumbu pedas khas Blitar yang membuat pelanggan kembali lagi.

Harga Terjangkau, Rasa Tak Tergantikan

Meski sudah terkenal, Martumi tidak mematok harga tinggi. Pembeli hanya membayar sesuai lauk yang dimakan. Untuk satu potong lauk seperti ayam atau ikan, harga dibanderol sekitar Rp110 ribu per biji, sedangkan paket dengan sayur tewel sekitar Rp120 ribu.

Bagi sebagian orang, harga ini terbilang sepadan dengan cita rasa dan porsi yang melimpah. Apalagi, pengunjung bisa menyantap langsung di tempat dengan suasana warung sederhana khas pedesaan.

Daya Tarik Kuliner Blitar yang Tak Pernah Pudar

Warung Blendi Tewel Martumi kini menjadi salah satu ikon kuliner khas Blitar yang selalu ramai setiap hari. Bahkan banyak food vlogger dan pecinta kuliner ekstrem yang datang untuk membuktikan sendiri seberapa “pedasnya 60 kilo cabai” yang dimasak sekali olah.

Bagi masyarakat sekitar, Martumi bukan hanya sekadar penjual makanan. Ia adalah penjaga tradisi kuliner pedas Blitar yang sudah bertahan lebih dari enam dekade.

Dengan segala kesederhanaan dan cita rasa autentik, Martumi berhasil membuktikan bahwa resep turun-temurun tetap bisa bersaing di era digital, asal dikelola dengan cinta dan konsistensi rasa.

Kesimpulan: Pedasnya Warisan, Bukan Sekadar Sensasi

Blendi Tewel Martumi bukan sekadar masakan pedas biasa. Di balik setiap sendok kuah santan dan potongan tewel, ada cerita panjang tentang perjuangan, konsistensi, dan cinta pada kuliner lokal.

Bagi siapa pun yang berkunjung ke Blitar, mencicipi blendi tewel Martumi bukan hanya tentang makan, tapi juga tentang merasakan warisan cita rasa pedas legendaris sejak 1960.

 

Editor : Anggi Septian A.P.
#kuliner pedas blitar #kuliner jawa timur