Zombie Scrolling Ancam Generasi Muda: Ahli Saraf Ungkap Cara Media Sosial Merusak Otak Secara Permanen
Rahma Nur Anisa• Selasa, 14 Oktober 2025 | 01:00 WIB
Zombie scrolling kini menjadi perhatian serius para ahli neurosains dan psikolog di seluruh dunia.
BLITAR KAWENTAR - Dunia kesehatan mental dikejutkan dengan temuan terbaru yang mengungkapkan bahwa kebiasaan menggulir media sosial tanpa sadar dapat mengubah struktur otak secara permanen. Fenomena yang disebut "zombie scrolling" ini kini menjadi perhatian serius para ahli neurosains dan psikolog di seluruh dunia.
Dalam film dokumenter "The Social Dilemma," pengguna media sosial digambarkan seperti boneka voodoo yang dikendalikan oleh algoritma. Perintah sederhana seperti klik, suka, dan gulir dilakukan tanpa kesadaran penuh. Yuval Noah Harari dalam bukunya "Homodeus" bahkan menyebut bahwa data telah menjadi agama baru yang lebih berkuasa dari agama manapun, mampu mengendalikan manusia dari ekonomi hingga politik.
Arthur C. Clarke pernah mengatakan bahwa teknologi canggih tidak berbeda dengan sihir. Pernyataan ini terbukti dengan cara kerja media sosial yang seolah menyihir penggunanya. Jutaan orang rela duduk berjam-jam tanpa bergerak, hanya jari yang aktif menggulir layar ponsel.
Yang perlu disadari, algoritma media sosial saat ini bukan hanya hasil pemrograman komputer, tetapi juga mengandung prinsip-prinsip psikologi yang dirancang khusus. Pilihan konten yang tampak bebas sebenarnya telah dimanipulasi, mirip seperti pesulap yang membuat penonton merasa memilih kartu secara acak padahal sudah diatur.
Fakta yang mengejutkan adalah bahwa otak setiap manusia, termasuk yang ada di kepala pembaca saat ini, memiliki kapasitas yang sama dengan otak para jenius seperti Einstein, B.J. Habibie, atau ilmuwan terkenal lainnya. Ahli neurosains menegaskan bahwa otak manusia adalah struktur paling kompleks yang diketahui umat manusia.
Perbedaannya bukan pada spesifikasi otak, melainkan pada bagaimana otak dilatih dan digunakan. Einstein sendiri pernah mengatakan bahwa dirinya tidak lebih pintar, hanya bertahan dengan kerumitan lebih lama. Jerome Polin, matematikawan muda Indonesia, juga mengakui bahwa kepintarannya adalah hasil dari latihan keras setiap hari, mengerjakan ratusan soal matematika secara konsisten.
Otak memiliki sifat plastis, artinya dapat berubah menjadi lebih baik atau lebih buruk tergantung aktivitas dan lingkungan. Konsep ini dikenal sebagai neuroplastisitas. Penelitian pada tahun 1990-an oleh Mark Rosenzweig dan Edward Bennett membuktikan fenomena ini melalui eksperimen pada tikus.
Tiga kelompok tikus ditempatkan di lingkungan berbeda. Kelompok pertama dibiarkan sendiri dengan hanya diberi makan dan minum. Kelompok kedua ditempatkan bersama-sama namun juga hanya diberi makan dan minum. Sementara kelompok ketiga tidak hanya berkumpul bersama, tetapi juga diberi mainan untuk beraktivitas. Setelah 30 hari, otak tikus kelompok ketiga terbukti lebih tebal, menunjukkan lebih banyak koneksi sinaptik.
Artinya, jika seseorang terlalu banyak berbaring sambil menggulir media sosial mirip tikus yang hanya diberi makan dan minum, otaknya tidak berkembang. Sebaliknya, jika aktif bersosialisasi dan melakukan aktivitas menantang, otak akan menebal dan koneksi sel saraf semakin kompleks.
Otak manusia berisi hampir 100 miliar sel saraf. Setiap sel saraf bekerja seperti kabel listrik dengan bagian input yang disebut dendrit dan bagian output yang disebut akson. Dendrit menerima sinyal listrik dari sel saraf lain, sementara akson meneruskan sinyal ke sel saraf berikutnya.
Sinyal listrik ini berasal dari rangsangan apapun yang ditangkap indra, cahaya yang dilihat mata, suara yang didengar telinga, sentuhan yang dirasakan kulit, termasuk ketika seseorang berpikir. Sel-sel saraf terhubung membentuk jaringan saraf (neural network). Semakin banyak sel saraf yang terhubung, semakin efektif otak bekerja.
Proses pembentukan koneksi baru disebut neurogenesis, penciptaan sel saraf baru yang sebelumnya tidak ada. Proses ini terjadi ketika seseorang membaca, menulis, mengerjakan soal matematika, atau belajar hal baru. Sebaliknya, jika seseorang berhenti belajar atau tidak menggunakan koneksi saraf tertentu, dapat terjadi pemangkasan sinaptik (synaptic pruning) di mana koneksi yang ada terputus.
Dopamin adalah hormon yang membuat manusia merasa senang. Namun, secara alami dopamin dilepaskan setelah seseorang melakukan usaha tertentu seperti olahraga, bekerja, belajar, atau aktivitas yang membutuhkan tenaga dan pikiran. Setelah usaha tersebut, otak memberikan hadiah berupa pelepasan dopamin yang membuat seseorang merasa puas dan bergairah.
Ahli saraf menganalogikan fungsi dopamin seperti timbangan. Ketika mengerjakan tugas sulit, timbangan miring ke arah rasa sakit. Otak kemudian menyeimbangkannya dengan memberikan dopamin. Masalahnya, di era digital ini, cara kerja alami otak dibajak dengan kemudahan mengakses hiburan instan.
Setiap kali menonton video pendek tanpa usaha berpikir, otak melepaskan dopamin dan timbangan miring ke arah senang. Namun otak segera menyeimbangkannya kembali sehingga kepuasan hilang. Pengguna kemudian menggulir konten berikutnya, dan siklus ini terus berulang. Inilah yang menyebabkan kecanduan.
Jika terus-menerus begitu, otak mengambil tindakan tegas dengan mengurangi reseptor dopamin agar tidak kebanjiran. Akibatnya, pengguna kehilangan kemampuan merasakan kepuasan namun jari terus menggulir mencari konten, kondisi yang disebut zombie scrolling.
Para ahli tidak mengajak memboikot media sosial sepenuhnya, tetapi menghimbau bijak dalam memilih konten dan membatasi durasi. Sebuah tantangan diajukan untuk hapus aplikasi media sosial selama satu bulan, lalu ganti dengan membaca buku fisik hingga selesai. Usaha ini akan melatih otak bekerja secara mendalam, membentuk koneksi saraf baru, dan mengembalikan kemampuan fokus yang hilang. (*)