Indonesia Peringkat 9 Pengguna Media Sosial Terlama di Dunia: Ahli Khawatir Generasi Muda Alami Penurunan Kecerdasan Drastis
Rahma Nur Anisa• Selasa, 14 Oktober 2025 | 02:00 WIB
Kemampuan orang untuk mempertahankan fokus pada satu informasi atau pelajaran semakin menurun
BLITAR KAWENTAR - Data statistik terbaru menempatkan Indonesia di urutan kesembilan negara dengan penggunaan media sosial terlama di dunia. Masyarakat Indonesia rata-rata menghabiskan lebih dari tiga jam per hari di platform media sosial, bahkan total aktivitas internet mencapai lebih dari tujuh jam sehari, hampir setara dengan durasi tidur.
Kekhawatiran para ahli kesehatan mental terbukti dengan dimasukkannya istilah "brain rot" atau pembusukan otak ke dalam Kamus Oxford sebagai kata terpopuler tahun 2024. Penggunaan istilah ini meningkat hingga 230 persen, menunjukkan semakin banyak orang yang menyadari dampak negatif konsumsi konten media sosial berlebihan.
Oxford mendefinisikan brain rot sebagai penurunan kemampuan mental dan intelektual seseorang yang disebabkan oleh kebiasaan mengonsumsi konten dangkal yang tidak menantang kemampuan berpikir. Kondisi ini tidak hanya mengancam produktivitas, tetapi juga masa depan generasi muda yang kini menjadi pengguna terbesar media sosial.
Otak manusia memiliki keterbatasan yang disebut beban kognitif (cognitive load), jumlah informasi maksimal yang dapat ditampung otak dalam satu waktu. Ketika informasi yang masuk terlalu banyak dan tidak terorganisir dengan baik, terjadi kelebihan beban kognitif (cognitive overload).
Akibat dari kelebihan beban ini meliputi kebingungan, kesalahan logika, kelelahan mental, hingga mempercepat proses penuaan otak atau pikun. Fenomena ini semakin parah dengan adanya media sosial yang menyajikan konten acak dan tidak terkontrol dalam jumlah tak terbatas.
Seorang peneliti menceritakan pengalaman temannya yang merasa memiliki gejala ADHD karena sering lupa alasan masuk ke sebuah ruangan. Setelah ditelusuri, ternyata hal itu terjadi karena kebiasaan menggunakan ponsel terus-menerus yang mengganggu kemampuan otak untuk fokus dan mengingat.
Dr. Gloria Mark, psikolog Amerika yang melakukan penelitian khusus tentang rentang perhatian (attention span), menemukan fakta mengkhawatirkan. Kemampuan orang untuk mempertahankan fokus pada satu informasi atau pelajaran semakin menurun drastis dari waktu ke waktu.
Rentang perhatian adalah durasi atau daya tahan seseorang untuk fokus memperhatikan sebuah informasi. Jika seseorang tidak bisa menahan diri untuk tidak menggulir layar setiap beberapa detik, atau tidak mampu menonton konten panjang hingga selesai, itu menandakan rentang perhatian yang semakin pendek.
Media sosial yang membatasi durasi konten dan menyediakan guliran tanpa batas menjadi penyebab utama. Platform seperti Twitter, TikTok, dan Instagram dirancang agar pengguna terus berpindah dari satu konten ke konten lain dalam hitungan detik. Akibatnya, otak tidak pernah dilatih untuk mencerna informasi secara utuh dan mendalam.
Konten pendek yang dangkal dan guliran tanpa batas bukan dibuat tanpa tujuan. Algoritma dirancang agar otak pengguna mengeluarkan banyak dopamin, hormon kesenangan yang membuat seseorang kecanduan. Ahli saraf menjelaskan bahwa otak akan segera memberitahu tubuh untuk melakukan hal yang menghasilkan dopamin ketika seseorang berada dalam tekanan dan butuh pelarian.
Masalahnya, dopamin secara alami seharusnya dilepaskan setelah seseorang melakukan usaha tertentu misalnya olahraga, bekerja, belajar, atau aktivitas lain yang membutuhkan energi dan pemikiran. Dopamin adalah motivasi alami yang mendorong manusia tetap bergerak dan berpikir untuk bertahan hidup.
Namun di era digital, cara kerja alami dopamin ini dibajak dengan kemudahan mengakses hiburan instan. Setiap kali menonton video pendek tanpa usaha, otak melepaskan dopamin. Kepuasan yang muncul hanya sementara karena otak segera menyeimbangkannya kembali. Pengguna kemudian menggulir konten berikutnya, dan siklus kecanduan ini terus berulang.
Yang lebih berbahaya, jika terus-menerus demikian, otak mengambil tindakan dengan mengurangi reseptor dopamin. Akibatnya pengguna kehilangan kemampuan merasakan kepuasan, namun jari tetap menggulir mencari konten baru, kondisi yang hampir mirip dengan gangguan obsesif-kompulsif (OCD).
Beberapa gejala brain rot yang dapat dikenali antara lain: kemalasan bergerak dan lebih suka berbaring sambil bermain ponsel; kesulitan konsentrasi pada tugas rumit atau pelajaran yang membutuhkan pemikiran mendalam; menurunnya pemahaman terhadap matematika dasar atau pengetahuan umum; perasaan tidak bergairah dan tidak produktif; serta kecemasan berlebih terhadap keadaan diri namun bingung harus berbuat apa.
Fenomena anak-anak sekolah menengah yang tidak memahami matematika sederhana semakin sering terjadi. Ini bukan masalah motivasi semata, melainkan masalah yang terjadi di dalam struktur otak. Betapapun seseorang menonton video motivasi berjam-jam atau konten inspiratif berpuluh-puluh, tidak akan membuat mereka menjadi lebih baik jika otak tidak dilatih dengan aktivitas yang menantang.
Otak manusia tidak dirancang untuk mencerna sesuatu secara instan. Otak dirancang untuk memproses informasi secara mendalam melalui usaha dan pemikiran. Hal ini sesuai dengan evolusi manusia yang terbiasa melakukan banyak usaha di awal untuk mendapatkan sedikit imbalan.
Media sosial mengacaukan cara kerja alami otak ini. Dengan sekali sentuh jari, informasi dan hiburan muncul secara instan. Kemudahan ini membingungkan otak karena tidak sesuai dengan cara manusia berevolusi selama ribuan tahun.
Seperti otot yang tidak akan terbentuk tanpa beban latihan, otak pun membutuhkan beban berpikir agar koneksi-koneksi sel saraf terbentuk. Tanpa beban berpikir yang memadai, koneksi dalam otak tidak berkembang, bahkan yang sudah ada bisa terputus.
Para ahli tidak mengajak untuk memboikot media sosial sepenuhnya, karena platform ini tetap memiliki manfaat jika digunakan dengan bijak. Yang perlu diperhatikan adalah jenis konten yang ditonton dan durasi penggunaan.
Sebuah tantangan diajukan untuk membuktikan teori di atas: hapus aplikasi media sosial selama satu bulan (kecuali bagi pembuat konten profesional), lalu ganti aktivitas itu dengan membaca buku fisik hingga selesai. Buku harus dibeli langsung ke toko dengan usaha sendiri, bukan membeli secara daring atau membaca versi digital.
Usaha maksimal akan mendatangkan imbalan alami dari otak berupa dopamin yang sesungguhnya. Setelah satu bulan, cara pandang terhadap hal-hal rumit akan berubah. Otak akan menjadi lebih tenang, jernih, dan progresif, dampak positif yang akan terasa pada sekolah, keluarga, dan pekerjaan. (*)