BLITAR KAWENTAR - Di tengah derasnya arus media sosial dan budaya pamer pencapaian, banyak anak muda terjebak dalam lingkaran perbandingan dan kehilangan jati diri. Seorang kreator konten membagikan refleksinya tentang pentingnya berhenti mengejar validasi orang lain dan mulai berdamai dengan diri sendiri.
Dalam video yang viral di YouTube, pembicara menceritakan perjalanan panjangnya menerima diri sendiri. Ia mengaku pernah merasa “tidak cukup” kurang tampan, kurang pintar, dan kurang sukses. Demi mendapatkan pengakuan, ia memperbaiki penampilan, belajar keras, dan bekerja tanpa henti. Namun, alih-alih bahagia, yang datang justru perasaan kosong dan lelah.
Refleksi itu mengantarkannya pada kesadaran baru: “Orang yang paling harus menerima aku bukan orang lain, tapi aku sendiri.” Ia menegaskan bahwa self love bukan berarti berhenti berkembang, melainkan berhenti menyiksa diri dengan standar yang bukan milik kita.
Fenomena ini sangat relevan dengan kondisi generasi muda saat ini. Menurut penelitian Journal of Social and Clinical Psychology (2021), semakin sering seseorang membandingkan diri di media sosial, semakin besar risiko ia merasa tidak berharga. Hal ini menjelaskan mengapa banyak anak muda merasa cemas dan tertekan meski hidupnya tampak “sempurna” di layar digital.
Pembicara juga menekankan dimensi spiritual dalam proses ini. Ia mengingatkan bahwa ketenangan sejati datang bukan dari pengakuan manusia, tetapi dari kedekatan dengan Tuhan. Ia mengutip makna ayat Al-Qur’an: “Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu.” Artinya, sekecil apa pun progres seseorang, tidak akan sia-sia di sisi Allah.
Menerima diri bukan berarti berhenti berusaha, tetapi belajar menghargai setiap langkah kecil tanpa harus menunggu validasi orang lain. Hidup bukan lomba siapa yang paling cepat berhasil, melainkan perjalanan siapa yang paling jujur dan damai dengan dirinya sendiri.
Editor : M. Subchan Abdullah