BLITAR – Di sebuah pelataran dalam nuansa tenang Candi Kalicilik, Desa Candirejo, Kecamatan Ponggok, sosok Mariyat tampak akrab dengan setiap batu dan relief yang berdiri di hadapannya. Selama hampir tiga dekade, pria berusia 61 tahun ini telah menjadi penjaga kesunyian dan saksi bisu perjalanan waktu di situs peninggalan Kerajaan Majapahit itu.
Namun, kebersamaan panjang antara Mariyat dan Candi Kalicilik akan segera berakhir. Pada 2026 mendatang, ia dijadwalkan pensiun setelah 28 tahun menjadi juru pelihara situs bersejarah tersebut.
“Kemungkinan saya tahun depan tidak di sini lagi, sudah waktunya pensiun,” ujarnya lirih, sembari menatap kompleks candi yang menjadi bagian dari hidupnya sejak 1997.
Perjalanan Mariyat menjadi juru pelihara bermula bukan karena ambisi besar, melainkan kebetulan dan ketulusan. Saat itu, balai pelestarian cagar budaya (BPCB) menawarkan pekerjaan membuat taman dan jalan setapak di sekitar Candi Kalicilik. “Dulu di sini masih banyak pohon rimbun. Tugas saya waktu itu membuat taman dan jalan setapak,” kenangnya.
Dari sanalah, tangannya yang semula hanya menata batu dan tanaman kemudian dipercaya untuk merawat cagar budaya peninggalan Tribhuwanatunggadewi.
Meski awalnya berstatus honorer dengan upah hanya Rp 65 ribu per bulan, Mariyat tak pernah mengeluh. Baginya, merawat warisan leluhur jauh lebih bernilai ketimbang materi.
Kini, setelah bertahun-tahun, ia menerima tunjangan Rp 1 juta dari BPK Wilayah XI Jawa Timur dan Rp 500 ribu dari pemerintah provinsi. “Berapa pun hasilnya tetap saya syukuri. Anggap saja saya di sini nguri-nguri peninggalan nenek moyang kita,” katanya dengan senyum tenang.
Selama hampir tiga dekade, Mariyat menjadi wajah pertama yang menyapa pengunjung Candi Kalicilik. Ia tak hanya menjaga, tetapi juga menjadi pemandu sekaligus penjaga cerita tentang kejayaan Kerajaan Majapahit.
Bagi Mariyat, Candi Kalicilik bukan sekadar tempat kerja, ia adalah rumah spiritual dan sejarah yang telah menemaninya sepanjang hidup. Ketika masa pensiun tiba nanti, Mariyat berharap sosok pengganti mampu mencintai Candi Kalicilik sebagaimana dirinya. "Yang penting tetap dirawat, jangan sampai terbengkalai. Candi ini bagian dari sejarah kita,” pungkasnya pelan. (kho/ynu) (*)