BLITAR KAWENTAR - Menjadi perempuan di tengah budaya yang masih membatasi ruang dan mimpi bukanlah hal mudah. Namun, bagi Lavina Sabila, pengalaman hidup dari Aceh hingga Eropa telah mengajarkannya arti kemandirian, keberanian, dan kesetaraan yang sesungguhnya.
Lavina tumbuh dalam keluarga yang tidak membedakan anak laki-laki dan perempuan. Namun, lewat riset dan pengalaman di Aceh, ia menyadari banyak perempuan lain yang tidak mendapatkan kesempatan yang sama—tidak didukung untuk bermimpi, bekerja, bahkan menempuh pendidikan tinggi. Dari situlah lahir Inong Carong, gerakan pemberdayaan perempuan yang berarti “perempuan pintar”.
Melalui Inong Carong, Lavina menyediakan pelatihan agar perempuan bisa mandiri secara finansial, bukan hanya mendapatkan dukungan emosional. “Kita enggak bisa cuma bilang ‘kamu bisa’, tapi juga harus kasih kesempatan untuk bisa,” ujarnya.
Baca Juga: Ego, Trauma, dan Amarah: Mengapa Kita Mudah Tersulut?
Merantau ke berbagai negara juga menjadi pengalaman yang mengubah pandangannya tentang hidup. Baginya, merantau bukan sekadar mencari ilmu, tapi juga ujian untuk basic life skill, keyakinan, dan empati. “Aku belajar jadi minoritas, dan dari situ aku tahu gimana rasanya dilihat berbeda,” tuturnya.
Kini, sebagai istri dan ibu, Lavina menemukan kebahagiaan yang berbeda. Ia percaya bahwa untuk membesarkan anak yang hebat, orang tua harus menjadi teladan terlebih dahulu. “Anak akan meniru apa yang ia lihat, bukan apa yang ia dengar,” katanya.
Perjalanan hidup Lavina adalah refleksi bahwa perempuan bisa berdaya tanpa kehilangan kelembutan, bisa bermimpi tanpa harus meninggalkan akar, dan bisa memilih jalannya sendiri tanpa takut dinilai. Karena seperti kata Lavina, “Support terbesar bagi perempuan adalah ketika kita didengarkan.”
Baca Juga: 7 Do & Don’t dalam Hubungan Sehat: Panduan dari Love Talk Podcast
Editor : M. Subchan Abdullah