BLITAR KAWENTAR - Otak manusia memiliki cara kerja unik dalam menyimpan kenangan. Penelitian menunjukkan bahwa emosi negatif justru lebih kuat tertanam dibanding perasaan bahagia. Apa penyebabnya?
Menurut penjelasan seorang ahli dalam video diskusi di YouTube, dua bagian otak yang berperan penting dalam memori adalah amigdala dan hipokampus. Amigdala mengatur emosi, sementara hipokampus berfungsi menyimpan memori jangka panjang. Ketika seseorang merasakan emosi intens, terutama emosi negatif seperti marah, takut, atau sedih, amigdala menstimulasi hipokampus untuk memperkuat penyimpanan ingatan tersebut.
Fenomena ini menjelaskan mengapa pengalaman yang menyakitkan sulit dilupakan. Contohnya, seseorang mungkin masih mengingat jelas momen dikhianati bertahun-tahun lalu, sementara peristiwa bahagia cenderung memudar lebih cepat.
Selain itu, otak juga bekerja berdasarkan asosiasi. Artinya, kenangan dapat muncul kembali hanya karena satu rangsangan kecil seperti suara, aroma, atau wajah yang mirip dengan pelaku trauma. Proses ini disebut “thin slicing” atau “blink”, di mana otak mengambil potongan kecil informasi untuk menilai situasi dengan cepat berdasarkan pengalaman masa lalu.
Untuk melawan dominasi memori negatif, seseorang perlu membangun pengalaman emosional baru yang lebih positif. Seiring waktu, otak akan “menimpa” memori lama dengan kenangan yang lebih sehat. Namun, proses ini tidak bisa dipaksakan. Diperlukan dukungan sosial dan waktu yang cukup agar keseimbangan emosional kembali pulih.
Memahami cara kerja otak dapat membantu manusia mengelola emosinya lebih baik. Emosi negatif memang melekat kuat, tetapi dengan kesadaran dan pengalaman positif, otak juga mampu menyembuhkan dirinya sendiri.
Editor : M. Subchan Abdullah